Nerimo ing pandum ( rela )
Kita merupakan buronan , yang di kutuk dengan nostalgia, drama sendu, penyakit dan kematian. Karena kita tak lebih dari bagian peristiwa-peristiwa dalam proses sandiwara kehidupan setelah kehancuran manusia sebelum kita. Seperti halnya kita menciptakan sang pahlawan melalui lagu-lagu sedih dan ritual-ritual sakral kita. Si pahlawan menderita dan kita menikmati pertunjukannya. Penderitaan yang menjadi kisah kemudian berubah menjadi kenikmatan. Apa yang terjadi di panggung memberi kesenangan bagi penonton, karena si pahlawan menjalani penderitaannya.
Seringkali musik merangkul tangisan kesakitan , keputusasaan dan pemberontakan sebagai keindahan yang menyenangkan batin. Ia mengekspresikan keinginan untuk mengakhiri pemaksaan sosial dan ketidakpantasan seksual. sehinggai ia mampu mengekang energi yang menghancurkan yang mengarah ke kekosongan. Mengambil tesis dari darwin , survival of the fitest, adalah benar dan barbarisme merupakan jalan satu-satunya menuju kemajuan.
Realitas materi yang saling menegasi demi kelangsungan eksistensi materi tersebut adalah informasi yang sudah lama kita ketahui. Di dalam sistem budaya , sosial dan politik selalu terjadi kompetisi yang saling menindih satu sama lain. Tak ayal jika kekuatan (dalam arti apapun) adalah keharusan yang wajib di kuasai demi kegembiraan.ter kadang penulis curiga bahkan ragu dengan potensi , harapan , optimis , semangat n wish word lainya. karena itu seluruhnya adalah upaya memanipulasi keadaan diri. Kalo kalah ya kalah, nikmati saja kekalahan n pasrah lah. tidak perlu kita menipu diri dengan merekayasa imajinasi merangkai ilusi untuk menghibur diri karena ketidak beruntungan kita. berpesta dalam ketidak berdayaan lebih menarik ketimbang membakar diri dengan semangat , tuntutan diri, dan lain-lain.
karena manusia sering kali berharap dan sesering itu pula gagal. sebagian dari mereka mencoba menginventaris hidup mereka dengan tumpukan target dan pekerjaan, lalu mencoba berspekulasi dengan alam . ia bertransaksi dengan keadaan diri , lingkungan (baca: alam ) , padahal ia tahu alam adalah sebuah sistem besar yang menopang semesta dan manusia. yang dengannya semua benda materi dan imateri bergantung.
artinya manusia sedang berhadapan dengan satu hukum besar yang menjaga manusia dan non manusia itu ada dan yang memelihara keharmonisan keber-ada-an tersebut . dan mustahil , makhluk kecil dan imut seperti kita ingin menantang arus yang sudah terpola dalam sistem besar tesebut. manusia, adalah salah satu spesies dari jutaan spesies yang hidup di alam raya. dan spesies ini cenderung arogan dan pongah atas kemampuan pikiran dan kemampuan kreasi . dengan kehebatan perkakas alamiah tersebut, ras ini menduga bahwa mereka dapat menawar , berkompromi, berkongkalikong dengan alam. karena spesies ini (sesuai naluri ) , selalu berharap lebih meminta banyak atas kondisi dirinya. banyak yang terpenuhi dan jauh lebih banyak yang gagal . ketidak mampuan menerima diri dan kondisi diri, mereka akumulasikan dengan kontruksi pikiran dengan emosional yang berwujud `harapan` yang tak lebih dari perjuangan ego dan perawatan eksistensi.
banyak stimulus atau usaha yang manusia ciptakan dalam mendekatkan dirinya dengan situasi yang ia `bayangkan`. Ini menyebabkan manusia bertengkar dengan diri sendiri. Padahal bertengkar dengan diri sendiri lebih berbahaya dari pada bertengkar dengan manusia lain. Retak , pecah adalah efek yang harus di tanggung. sebab, keretakan dan perpecahan diri mampu membuat manusia menjadi aneh dengan ruang privat yang di penuhi dengan kondisi kejiwaaan yang absurd dan tuntutan psikologi internal yang alot. tak jarang bagi mereka yang tak mampu menambal keretakan diri, mereka malah memperbesar retak yang akhirnya hancur (gila atau bunuh diri) sebagai bentuk pelarian dari tuntutan dan keharusan menjawab pertanyaan eksistensi dirinya .keterkaitan dan kebergantungan manusia dengan subjek-subjek lain membuat sesama manusia berkompromi dan bertransaksi mutualisme , yang akhirnya manusia rela mereduksi diri sesuai dari order/ request dari subjek lain tersebut.
Apakah ini benar ? mengapa harus demikian ?
Sebagai contoh kasus, terkadang penulis berpikir , bahwa `aku` manusia ( personal ) bukanlah aku manusia (individu) , aku adalah ia yang ada dalam rekayasa imaji ekspektatif. `aku` masih selalu berkelahi dengan `aku` sendiri . sebagai upaya mengeluarkan otentitas aku-nya dari entitas entitas palsu ke-aku-an yang lahir dari kompromi atau transaksi yang mereduksi diri. seperti terlukis dalam rangkaian kalimat dari tesis filsafat jawa ``aku akan terus mencari aku sejati yang terpendam dalam tanah mental dan lembah falsafati yang berlapis-lapis`` mungkin ungkapan ini dapat mewakili atas usaha apa yang seharusnya kita lakukan. aku ada (epistemologis) dan juga tiada (ontologis)
resonansi ,interspektif adalah satu dari sekian cara untuk menemukan `aku yang terkubur` oleh kontruksi-kontruksi persepsi dan lingkungan. bagi pramodya ananta toer, mempelajari diri manusia adalah hal yang tak pernah usah , selesai dan tema ini tak akan kempot atau kempis sepanjang manusia hidup. menarik memang. akan tetapi cukup membuat waktu kita habis terkuras sehingga dapat membuat tertundanya tugas kampus dan tugas hati .
Metafisikaisme
kosong karena kepenuhan
hening karena keramaian
hilang karena kbanyakan
lecet karena perawatan
09:35 pm
Roman picisan
kau ..
adlh pagi hari
kau ..
adlh segar pula sejuk
kau ..
adlh aku yang mengemanasi
kau
adlh persepsi
kau
adlh motif tunggal
kau
adlh asa yang tercakar
tapi
kau adlh perusak masa depan
kau adlh penghancur mimpi
kau adlh pembantai cita-cita
kau adlh penyayat logika
kau adlh kejahatan estetis
kau, seperti rumus kimia yang terumit
kau, rangkaian huruf yang mencandu
kau, gravitasi nafas dan magnet ekspektasiku
kau, repetisi yang membuatku diam kalah
penyakit apa ini..
yang membuat independensiku terganggu
dan sukses membuatku autis dan abnormal
kepalaku memberat jantungku kejang
ternyata setelah curhat ke biksu muda
ia bersabda kepadaku , aku terkena sinting
.. karena ia penyihir pertama yang kutemui
12/12/10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar