Laman

Senin, 28 Februari 2011

Gembok dan kunci sapujagat

Segala sesuatu sedang menunggu untuk kita (mahasiswa, kaum terpelajar ) kerjakan. di atas bumi ini tetap di lakukan atau telah di lakukan. Lukisan paling besar belum terlukis, puisi paling besar belum di syairkan. Di seluruh dunia tidak ada kampus yang sempurna, gadget yang sempurna, juga tidak ada pemerintahan yang baik, juga tidak ada sebuah hukum yang masuk akal. Fisika , filsafat, matematika dan terutama ilmu-ilmu pengetahuan yang paling maju sedang di revisi dan di edit ulang secara fundamental.

Kimia ,politik , cinta baru saja menjadi sebuah sains; antropologi , sosiologi ,komunikasisedang menantikan seorang Darwin, yang pada giliranya akan menantikan seorang einstein. Jika anak laki-laki yang berhura-hura dikampus bisa menceritakan hal ini, adalah garansi mereka tidak semuanya menjadi ahli dalam dunia akademik , praktisi dan meraih peringkat-peringkat. Akan tetapi, mereka tidak di beri tahu tentang hal ini; mereka diberi tahu untuk mempelajari apa yang sudah di ketahui ( pengetahuan masa lalu). Ini sama sekali tidak ada apa-apanya. Tidak ada didunia ini yang sanggup menggantikan ketekunan. Karena ketekunan adalah mahakuasa.karena

Bukan kekayaan , karena banyak yang kaya sejak lahir tapi mati melarat
Bukan kejeniusan, orang jenius tidak mendapatkan penghargaan ,hanyalah sekedar peribahasa
Bukan pendidikan, sebab dunia ini penuh dengan gelandangan yang terpelajar,
Bukan keberuntungan, ketidaksetiaannya telah meruntuhkan banyak raja


Karena gagal adalah mereka yang berhenti mencoba maka Tekun adalah garansi alam atas kemenangan ,apapun itu . kenapa orang yang berhasil itu minoritas dan yang gagal itu mayoritas ?? ________ sebab hanya sedikit dari mereka yang sanggup untuk tekun.

Tahun terakhir mahasiswa tahun pertama abdi bangsa

Empat tahun memang benar terasa cepat. Sejenak teringat dengan status fesbuk teman w “lamanya waktu kita didunia seperti lamanya jarak waktu antara adzan dan sholat , itulah kenapa ketika kita lahir kita di adzankan dan ketika kita meninggal kita di sholatkan” .tak ayal nurani dan nalarku mengangguk pelan mengakui mutlak nya kebenaran itu atas penafsiran yang demikian. Semester akhir ku , semester delapan . hiks hiks huhuhu (gaya alay gak jelas) bentar lagi mau keluar dari kampus keluar dari pergaulan remaja yang gemar mengkonsumsi nihil produksi keluar dari simulasi dinamika sosial ala kampus keluar dari riuh rendahnya ruangan kelas dan lain-lain yang w gak mungkin disebutkan utuh disini. Arti pertemuan baru memilki makna jika kita sadar kita akan berpisah. Memang benar banget ungkapan itu. Ini hampir mirip dengan perkataan kimigure ,tokoh antagonis dalam komik naruto “ kita akan sadar siapa diri kita jika kita di ambang kematian”.


Itulah makna yang tersirat dalam akitivitas rutin yang tanpa kita sadari kita mengakhiri setiap moment. Menjelang akhir tahun akademik membuat w mengenang tahun-tahun menjalani diri sebagai ‘mahasiswa’. Sedikit sok nostalgik diracik angle romantik w menulis note ini. Banyak hal w dapati dan w alami ini, n syukurnya semua hal tersebut ikut merekontruksi karakter dan kebiasaan w. Kampus memang hal yang paling menarik dalam ssepanjang kehidupan w. Di mulai dari perilaku peghuni kampus, dosen yang kemampuan mengajarnya mengecewakan sekaligus menyedihkan (tidak semua namun cenderung) , tukang parkir yang murah senyum , satpam yang setia dengan posnya, pedagang kantin belakang yang ramah-tamah ,birokrasi kampus yang suka memperumit mahasiswa , undercover kehidupan mahasiswa/i , politik tirani yang amburadul ala mahasiswa , rahasia kampus yang menyimpan banyak kepalsuan , kasus dan skandal (penulis tersenyum sekaligus senang waktu menulis ini) dan masih banyak lagi.


Itulah kampus w, unpas yang beralamat di lengkong besar nomer 68. Itu masih belum cukup karena banyak kegiatan di luar kampus yang lebih banyak menyita waktu dan menjadikannya bernilai . Wisata seminar – workshop- pameran budaya- kursus gratis- pertunjukan seni- rapat organisasi- touring motor- body building- nongkrong- merenung etc. Putihnya niat belajar kuningnya kebersamaan jingganya kesendirian merahnya semangat sosial hijaunya perjuangan kelabunya politik praktis birunya asmara ungunya pengembaraan hitamnya kemalasan dan kecurigaan adalah rangkaian simfoni dan spektrum pergulatan diri dari sejarah personal w.
Ini jauh dari kesempurnaan kisah karena memang mustahil ada cerita yang sempurna, yang pasti (seperti yang di ajarkan oleh hikmah) mensyukurinya adalah cara terbaik menikmati semuanya. Aku telan semua pengalaman ini , disedot saripatinya dan siap di lepaskan demi menyambut hal baru yang lebih segar.


Ternyata hidup itu menyenangkan (dengan catatan) bagi mereka yang berpikiran positif

Kamis, 24 Februari 2011

pesan dari leluhur

Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga.Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat Ramalan-ramalan tersebut

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.
Kitab Musasar Jayabaya

penyataan ramalan

1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
2. Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.
3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berjalan di angkasa.
4. Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata air.
5. Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.
6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
7. Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.
8. Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.
9. Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.
10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.
11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
12. Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.
13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
14. Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.
15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
16. Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.
17. Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.
18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.
19. Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.
20. Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.
21. Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
22. Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
23. Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
24. Nantang bapa--- Menantang ayah.
25. Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.
26. Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling curiga.
27. Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.
28. Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.
29. Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil
31. Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil
32. Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.
33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
34. Luwih utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.
35. Wegah nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.
36. Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.
37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
38. Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.
39. Wong salah bungah --- Orang (yang) salah gembira ria.
40. Wong apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
41. Wong jahat munggah pangkat--- Orang (yang) jahat naik pangkat.
42. Wong agung kasinggung--- Orang (yang) mulia dilecehkan
43. Wong ala kapuja--- Orang (yang) jahat dipuji-puji.
44. Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.
45. Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang perwira/kejantanan
46. Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.
47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.
48. Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.
49. Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.
50. Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang tukar istri/suami.
51. Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.
52. Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.
53. Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
54. Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.
55. Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.
56. Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.
57. Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.
58. Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.
59. Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.
60. Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.
61. Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
62. Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.
63. Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.
64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.
65. Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.
66. Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.
67. Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.
68. Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.
69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.
70. Akeh laknat--- Banyak kutukan
71. Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.
72. Anak mangan bapak---Anak makan bapak.
73. Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.
74. Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.
75. Guru disatru---Guru dimusuhi.
76. Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.
77. Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.
78. Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.
79. Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.
80. Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.
81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
82. Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.
83. Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.
84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
85. Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.
86. Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.
87. Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.
88. Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
89. Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
90. Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.
91. Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.
92. Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.
93. Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.
94. Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.
95. Akeh barang haram---Banyak barang haram.
96. Akeh anak haram---Banyak anak haram.
97. Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.
98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
99. Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.
100. Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.
101. Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.
102. Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.
103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
104. Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.
105. Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.
106. Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.
107. Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.
108. Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.
109. Sing wedi mati---Yang takut mati.
110. Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.
111. Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih
112. Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur
113. Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.
114. Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.
115. Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.
116. Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.
117. Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.
118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
119. Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.
120. Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.
121. Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.
122. Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.
123. Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.
124. Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.
125. Anak lali bapak---Anak lupa bapa.
126. Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.
127. Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.
128. Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.
129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
131. Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.
132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.
133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
134. Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.
135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
136. Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.
137. Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.
138. Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.
139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.
140. Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.
141. Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.
142. Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.
143. Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana
144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
146. Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
147. Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.
148. Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.
149. Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.
150. Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.
151. Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.
152. Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.
153. Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.
154. Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
155. Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.
156. Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
157. Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.
158. Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
159. Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang
161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.
162. Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.
163. Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi.
164. Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci.
165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
166. Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.
167. Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut.
168. Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.
169. Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.
170. Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.
171. Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.
172. Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh
173. Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.
174. Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.
175. Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.
176. Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.
177. Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
178. Agama ditantang---Agama ditantang.
179. Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.
180. Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.
181. Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.
182. Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.
183. Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan.
184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
185. Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.
186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
188. Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.
189. Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.
190. Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.
191. Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.
192. Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.
193. Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.
194. Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga
195. Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.
196. Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.
197. Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.
198. Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.
199. Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.
200. Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.
201. Buruh mangluh---Buruh menangis.
202. Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.
203. Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.
204. Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.
205. Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.
206. Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
207. Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.
208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
209. Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal setengah.
210. Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.
211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
212. Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.
213. Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.
214. Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.
215. Akeh wong limbung---Banyak orang limbung.
216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.


Mari kita verifikasi , apakah kebenaran ramalan jayabaya ini benar adanya atau hanya fantasi para moyang kita. Sepakat atau tidak, sebagian dari ramalan ini yang tecipta di abad 15 , di benarkan oleh fakta-fakta kontemporer saat ini. Sebagai manusia terpelajar yang` modern` , tentuny kita menilai kebenaran bukan dari siapa yang menyampaikan akan tetapi dari apa yang di sampaikan .
contenta illud Veritatis

Mental budak , inlander


sibuk berpikir malah bukannya sibuk bertindak. bertindak selalu meredakan dan menuntaskan masalah. hanya orang-orang terpilih yang mampu melakukan itu. orang-orang ini selalu fokus terhadap tujuannya.

lalu siapa yang memilih orang-orang terpilih ini?
mereka sendirilah yang memilih dirinya agar selalu dalam ruangan positif yang asri dan mengembirakan. hanya membutuhkan kemauan untuk berubah, hanya kemauan. gak perlu kita sempurnakan kemampuan , fasilitas menunjang jika itu semua untuk kemegahan di luar diri kita sehingga kita lupa untuk memegahkan dalam diri kita. artinya berfokuslah untuk memiliki kemauan . hanya orang yang memiliki kemauan ,yang rela melakukan apa saja agar impiannya tercapai

apapun itu, apapun itu pasti di kerjakan oleh orang yang punya kemauan. dan sejarah sepanjang manusia hidup , hanya orang yang punya kemauan (baca : gila edan gak tau malu) yang mampu membuat nyata impiannya. karena dunia ini telah di penuhi oleh manusia-manusia yang lemah , mudah cemas / gelisah ,putus asa dan ras inlander. karenanya mereka selalu memperluas pengaruhnya dan memperbanyak pengikutnya dengan meremehkan meragukan menakuti mempermalukan orang-orang yang sedang keluar dari dunia kaum inlader.

banyak orang yang terlena dengan kenyamanan tenggelam dalam kebiasaan inlanderisme. padahal jika mereka mau mengoreksi diri (kenapa mereka selalu terpuruk yang seakan-akan hidup adalah sebuah kutukan) barang sesaat mereka akan menemukan betapa sesaknya sempitnya sakitnya perihnya nestapanya menjadi kaum inlander.
perbedaan inlander dengan non inlander hanya di masalah pikiran. lagi-lagi kemauan.

apa mereka mempunyai kemauan ????
tidaak !!

mereka mempunyai alasan !! ratusan alasan .
alasan adalah pusaka terbesar mereka yang paling bernilai dan selalu mereka pegang. karena pusaka ini sangat tiada tara mereka merawatnya tiap hari kapanpun dimanapun. kita selalu melihat mereka memperlihatkan pusaka (baca : alasan) ketika mereka ada dalam kewajiban. inilah sepercik gambaran tentang gemerlapnya kesusahan dari kaum inlander. Karenanya sukarno paham betul terhadap rakyat nusantara yang dalam 350 tahun terjajah tertindas tertekan sehingga inlander tidak hanya terjadi dalam budaya sosial tetapi telah menjadi mindset stabil yang berada dalam nalar-nalar moyang kita , sehingga karakter inlander ini terbungkus dalam gen-gen dan terkodifikasi dalam DNA kita sehinga butuh usaha serius agar kita benar-benar terbebas dari sifat yang terwarisi dalam darah n sel saraf otak kita.

lawan ketakutan
lawan diri kita
lawan inlanderisasi