Waktu bergulir cepat. Tak terasa 4 tahun berselang aku tahbiskan periode perkembangan akal dan batin dikampus lengkong. Bermacam episode gejolak dan gelegak memenuhi ritme lagu perjalanan masa muda dikampus. Selain mengoleksi banyak kisah segar dan suram dikampus, Menarik jika juga mengetahui bahwa kampus juga sebuah ajang permainan dimana sandiwara, kedok, teater dan panggung dari makhluk-makhluk yang mencari hal-hal profit dengan cara yang terlarang. Profit disini memiliki arti sesuatu yang menguntungkan baik dari nilai ekonomi maupun politis. Kita bebas mengambil peran apapun . Disini kita dapat mengamati, bagaimana simulasi kehidupan realitas yang ada di kampus ini hadir dan menjadi tontotan kita. Terlepas apakah tontonan dari realitas tersebut ini pantas menjadi tuntutan atau bukan, yang pasti adalah kita mendapati tontonan tersebut adalah sebuah fase yang pasti kita jalani dengan standar yang lebih kejam jika kita setelah keluar dari kampus. tak dapat di pungkiri bahwa manusia perlu benda materi untuk bertahan hidup namun kerakusanlah yang membuat bencana kemanusiaan senantiasa setia bertengger di atas sejarah peradaban manusia. Hal tersebut lah yang membawa individu berebutan untuk mengejar hal yang menguntungkan dirinya sendiri dengan cara primitif.
Diluar kelas, kampus adalah ruang bebas sekaligus kosong. Selama kita secara resmi memegang KTM unpas, kita bebas memanfaatkan fasilitas apapun demi kebaikan diri kita. Kosong karena kita sendirilah yang memanfaatkanya karena ini bagian dari ruang kreasi yang sengaja disediakan dan dikosongkan oleh kampus untuk kita isi seoptimal mungkin. Layaknya buku, kampus adalah benda mati yang hanya bisa bermanfaat jika kita ambil nilai gunanya. Memang tak semudah berbicara, jika kita ingin kebaikan didalam kampus kita kudu berproses dalam laga juang yang mengharuskan kita peduli dengan hitungan logis-idealis dari pada peduli dengan hitungan beban emosi-psikis. Untuk sementara kita tidak berbicara hak dan kewajiban mahasiswa tetapi berbicara tentang amanah orang tua dan amanah zaman kita. Tiap zaman selalu berbeda kondisi sehingga kita perlu membutuhkan siasat yang berbeda pula. Zaman ini bukan zaman orde lama dan orde baru. Mempelajari corak dan warna zaman adalah langkah pertama yang penting dalam mempertegas identitas. Gempuran teknologi yang berlomba tiap hari, banjirnya informasi yang tidak penting dan kuatnya rayuan para pemilik modal dalam memancing syahwat konsumsi ,membuat generasi kita mudah lelah. Apakah kita kelelahan dalam mengejar sensasi atau memenuhi fantasi atau barangkali berburu prestasi , Cuma kita sendiri yang tahu. Sebagaimana doktrin yang aku peroleh dari bangku kuliah, komunikasi adalah kata kunci. Komunikasi kepada diri sendiri sebagai kebutuhan untuk mengenali dan membangun diri, komunikasi kepada sosial sebagai referensi dalam berpesta gagasan dan bekerja sama, serta komunikasi kepada zaman sebagai alat refleksi dalam memahami untuk apa aku dilahirkan.
Layaknya generasi muda yang ditakdirkan `akan` cemerlang, sangat perlu kita mengkritik keras diri sendiri sebelum mengkritik sosial. Karena kita-pun sudah tahu, bahwa dalam rekayasa sosial, individu mempengaruhi sosial bukan sebaliknya . sudah menjadi fatwa mutlak bahwa kita adalah bukanlah mahasiswa gurem yang nilai gunanya hanya untuk menjawab data sensus kuantitatif.
Kita sama-sama diamanahi untuk menjadi khalifatul fill ardh, yang berarti kita mempunyai kewajiban yang sama untuk menjadi makhluk yang berguna, tak peduli kita di dalam sistem atau di luar sistem. Seperti kata sartre, sastrawan yang menolak nobel sastra, hidup itu tidak lebih dari kalkulasi-kalkulasi dari komitmen masa lalu..
Salam dahsyat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar