BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Permasalahan
Sejak manusia lahir, ia selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Bahkan sebelum ia lahir, manusia berkomunikasi dengan ibu yang mengandungnya. Ini membuktikan secara aksiomatis bahwa kita dan komunikasi selalu terjadi kapanpun dan dimanapun selama manusia hidup. Kebutuhan untuk berkomunikasi adalah hal primer baik dalam memenuhi kebutuhan fisiologis maupun psikologis. Dalam lingkup bermasyarakat, kebutuhan dalam berkomunikasi menjadi lebih kompleks. Terdapat budaya, norma, pranata dan institusi yang mengikat masyarakat baik secara personal maupun kolektif. Kebudayaan dalam suatu masyarakat menjadi identitas, baik sebagai simbol intrapribadi maupun sebagai antarpribadi. .Di sinilah letak unsur nilai sebuah kebudayaan menjadi penting. Setiap kebudayaan memiliki nilai atau prinsip yang menjaga identitas masyarakat tersebut.
Media transformasi dibutuhkan untuk menjaga nilai-nilai kearifan budaya dari generasi ke generasi selanjutnya. Media transformasi yang bernilai kultural-historis ini mempunyai corak yang beragam sesuai dengan tempat budaya lahir dan berkembang. Karakter ini menghasilkan cara pandang tertentu di masyarakat. Cara pandang yang bersifat kultural-historis inilah yang sebenarnya menbentuk manusia karena manusia bukan dibentuk oleh lingkungan, tetapi oleh cara menerjemahkan pesan-pesan lingkungan yang diterimanya (Rakhmat. 12, 2007). Cara menerjemahkan pesan adalah bagian dari kegiatan komunikasi dan hal ini sangat memengaruhi tingkat keberhasilan dari proses komunikasi.
Dalam mencapai tujuan komunikasi, diperlukan cara-cara komunikasi yang sistematis dan tepat sasaran yang disebut sebagai strategi komunikasi (communication strategy), karena berhasil tidaknya suatu kegiatan komunikasi secara efektif ditentukan oleh strategi komunikasi. Budaya dan komunikasi adalah satu kesatuan yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Budaya setempat mempengaruhi komunikasi di daerah setempat. Komunikasi dengan media budaya adalah salah satu strategi komunikasi yang sering digunakan oleh masyarakat. Dengan media budaya, masyarakat tersebut mempertegas identitasnya. Karya sastra mempunyai nilai sebagai media budaya sekaligus sebagai media komunikasi. Puisi adalah karya sastra yang memliki metode yang khas dalam penggunaan bahasanya.
Memanfaatkan puisi sebagai media komunikasi merupakan salah satu contoh dari strategi komunikasi. Berpuisi melibatkan segenap energi budi dari seorang budayawan dalam melahirkan sebuah karya. Dimensi afektif cenderung lebih mudah menyerap informasi dari pada dimensi kognitif. Puisi menggunakan dimensi afektif dalam menyampaikan dan mengorganisasikan makna yang dikandung dalam puisi. Karakter inilah yang menjadi sebab pola perubahan kesadaran personal karena pesan dikemas dalam muatan rasa dan budi. Pola perubahan kesadaran personal ini selanjutnya ikut memengaruhi kesadaran kolektif dalam masyarakat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) arti kata sastra adalah “karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya”. Karya sastra berarti karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri. Substansi karya sastra apa pun bentuknya tetap sama, yakni pengalaman kemanusiaan dalam segala wujud dan dimensinya. Sastra dapat berfungsi sebagai kritik sosial. Kritik sosial merupakan salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya suatu sistem sosial. Adapun tindakan mengkritik dapat dilakukan oleh siapapun termasuk sastrawan dan kritik sosial merupakan unsur penting dalam memelihara sistem sosial yang ada.
Dalam penelitian tentang karya sastra, Roland Barthes (1915 – 1980) menerapkan model teori strukturalisme Saussure dalam menganalisis tentang karya -karya sastra dan gejala-gejala kebudayaan. Bagi Barthes komponen – komponen tanda, penanda – petanda dan sistem tanda bukan terdapat pada bahasa melainkan terdapat pada bentuk mitos yakni keseluruhan sistem citra dan kepercayaan yang dibentuk masyarakat untuk memp-ertahankan dan menonjolkan identitasnya. Dalam rangka analisis sastra, Roland Barthes melakukan refleksi atas kondisi historis bahasa sastra, berdasarkan fakta bahwa semua bahasa dibelit oleh makna yang telah melekat padanya, yang ada dalam suatu kebudayaan spesifik sehingga penuh dengan asumsi tentang realitas sosial. Bahasa sebagai medium karya sastra sebenarnya sudah merupakan sistem ketandaan atau semiotika, yaitu sistem ketandaan yang memiliki arti. Selain itu, karya sastra juga merupakan sistem tanda yang berdasar pada konvensi masyarakat (sastra). Inilah yang membedakan karya sastra dengan karya seni lain (Pradopo: 1995:121-122). KH. A. Mustofa Bisri, merupakan salah satu budayawan yang produktif menulis karya sastra. Pribadi yang kini sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Leteh Rembang lebih dikenal dengan sapaan Gus Mus. Gus adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorrang anak kyai yang mempunyai arti mas (kakak laki-laki).
Kecakapan sosok yang dilahirkan di Rembang ini, dalam mencermati segala fenomena keagamaan dan kebangsaan membuatnya terlihat santun dalam menyikapi aneka persoalan. Ia adalah ulama-budayawan yang mampu menciptakan revitalisasi, inovasi, dan kreasi untuk menghangatkan kembali dan mengemas seni tradisional ke dalam bentuk-bentuk baru, tanpa meninggalkan esensi dan substansinya. Telah menjadi sebuah gejala sosial yang absurd, ketika manusia kini banyak mengaku diri pintar dan modern, namun sesungguhnya masih primitif dalam hal kesadaran dan kedewasaan. Berkaitan carut-marut kehidupan berbangsa ini tidak dapat lepas dari ketidakpekaan kita terhadap sekitar (lingkungan dan masyarakat) dan ketidakmampuan menata diri sendiri secara proporsional (menempatkan hak dan kewajiban). Fenomena ini menjadi inspirasi Gus Mus untuk menulis puisi berjudul Tahun Baru:
Selamat Tahun Baru Kawan
Kawan! Sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk? Memandang diri sendiri?
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabnya?
Kawan! Siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah? Mukminin? Muttaqin? Khalifah Allah? Ummat Muhamadkah kita?
Khaira ummatin kah kita? Atau kita sama saja dengan makhluk lain?
Atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan,
lebih pipih dari kain rok perempuan.
Betapapun tersiksa, kita khusyu’ di depan massa dan tiba-tiba buas dan binal justru
saat di saat sendiri bersamaNya.
Syahadat kita rasanya seperti perut bedug
Atau pernyataan setia pegawai rendah saja, kosong tak berdaya.
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu, lebih cepat daripada menghirup
kopi panas, dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius kita memohon hidup enak di dunia dan
bahagia di surga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat
Ketika dating lapar atau haus, kitapun manggut-manggut
“Ooh beginikah rasanya” dan kita sudah merasa memikirkan sodara-sodara kita yang
melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa
Dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya
berlipat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya, menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan
matrial.
Membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci asli made in
Saudi … Haji…
Kawan, lalu bagaimana, bilamana, dan berapa lama kita bersamaNya?
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifahNya
Kawan, tak terasa kita memang semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita
Paling tidak kita semakin pintar berdalih
Kita perkosa alam dan lingkungan, demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata, demi semua yang baik halallah semua sampai yang tidak baik
Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman?
Para mubaligh dan kiai, penyambung lidah nabi?
Jangan ganggu mereka
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para muballigh sedang sibuk berteriak kemana-mana
Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi persoalan mereka sendiri
Kawan selamat tahun baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Memandang diri sendiri.
Berangkat dari bait puisi Tahun Baru di atas, terdapat rangkaian makna yang dapat menjadi perspektif dalam mengamati fenomena masyarakat yang cenderung hipokrit.
Dengan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengambil puisi gus mus ini sebagai objek penelitian, karena kejernihan Gus Mus dalam melihat dan menerjemahkan realitas sosial dalam bentuk rangkaian bait puisi. Peneliti berusaha mengangkat diskursus ini dengan rumusan masalah ” BAGAIMANA ANALISIS SEMIOTIKA KARYA SASTRA DALAM PUISI GUS MUS – TAHUN BARU“
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, peneliti mengidentifikasi masalah yang akan diteliti sebagai berikut:
1. Bagaimana karya sastra menjadi sebuah produk lain dari media komunikasi massa.
2. Bagaimana makna pesan linguistik yang terdapat dalam bait puisi Tahun Baru.
3. Bagaimana makna denotatif dan konotatif pada bait puisi Tahun Baru.
4. Bagaimana reproduksi sistem tanda dapat menjelaskan fenomena sosial yang ada bagi pembaca puisi Tahun Baru.
1.3 Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan di Jurusan Ilmu Komunikasi pada konsentrasi jurnalistik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pasundan Bandung. Penelitian ini juga bertujuan untuk menyajikan bahasan pemikiran semiotika analitik dan komunikasi sebagai pisau analisis dalam mereproduksi sistem tanda pada puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru. Selain itu penelitian juga bertujuan untuk:
1. Mengetahui karya sastra menjadi sebuah produk lain dari media komunikasi massa.
2. Mengetahui makna pesan linguistik yang terdapat dalam bait puisi Tahun Baru.
3. Mengetahui makna denotatif dan konotatif pada bait puisi Tahun Baru.
4. Mengetahui reproduksi sistem tanda dapat menjelaskan fenomena sosial yang ada bagi pembaca puisi Tahun Baru.
1.3.2 Kegunaan Penelitian
Penelitian berguna untuk pengembangan sebuah ilmu, terdapat dua kegunaan penelitian kualitatif. Kegunaan teoretis dan kegunaan praktis.
Adapun kegunaan penelitian yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu:
a. Kegunaan teoretis
1. memberikan paradigma dalam memahami puisi sebagai karya sastra dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes karena penelitian ini menganalisis fenomena tanda yang di alami masyarakat kontemporer saat ini.
2. Sebagai wahana pengembangan dan penggunaan pengetahuan mahasiswa dan menjadi parameter tentang dinamika sosial masyarakat dengan menganalisis aspek-aspek interaksi sosial dalam bentuk komunikasi massa
3. Mendapatkan gambaran tentang puisi yang dapat memberikam kesadaran baru dalam menerjemahkan fenomena sosial yang labil.
b. Kegunaan Praktis
Kegunaan praktis dalam penelitian ini adalah untuk dapat menerapkan semiotika dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat, khususnya melalui media karya sastra yang berbentuk puisi dan bagi pembaca dapat menjadi lebih kritis dalam memaknai tanda bahasa yang selalu digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu menyadarkan akan kemampuan puisi dalam memahami realitas dan membangun kesadaran kognitif bagi para pembacanya.
1.4 Kerangka Pemikiran.
1.4.1 Kerangka Pemikiran Teoretis
Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori fenomenologi Martin Husserl. Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui dialog atau percakapan. Bagi seorang fenomenolog, kisah seorang individu adalah lebih penting dan bermakna daripada hipotesis ataupun aksioma. Seorang penganut fenomenologi cenderung menentang segala sesuatu yang tidak dapat diamati.
Husserl yang dikutip oleh Engkus Kuswarno dalam bukunya Fenomenologi menjelaskan:
Dengan fenomemologi kita dapat mempelajari bentuk-bentuk pengalaman dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung, seolah-olah kita mengalaminya sendiri. Feomenologi tidak saja mengklasifikasikan setiap tindakan sadar yang dilakukan, namun juga meliputi prediksi terhadap tindakan dimasa yang akan datang, dilihat dari aspek-aspek terkait dengannya. Semuanya bersumber dari bagaimana seseorang memaknai objek dalam pengalamannya. Oleh karena itu, tidak salah apabila fenomenologi juga diiartikan sebagai studi tentang makna, dimana makna itu lebih luas dari sekedar bahasa yang mewakilinya (2009:10)
Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat. Dalam bahasa indonesia biasa dipakai istilah gejala. Secara istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi adalah suatu ilmu yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri.
Berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori, seorang Fenomenolog menganalisis objek dengan melihat gejala. Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa fenomenologi ini mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari.
1.4.2 Kerangka Pemikiran Konseptual
Penelitian ini menggunakan model Teori Semiotika Roland Barthes yang dikutip oleh Alex Sobur dalam bukunya Semiotika Komunikasi menjelaskan :
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda – tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah – tengah manusia dan bersama – sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal – hal (things). Memaknai (tosinify) dalam hal ini tfidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek – objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek – objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (2001:53)
Gambar dapat memberikan tanda – tanda yang dapat dimaknai, dan tidak hanya sebagai alat penyampaian pesan. Dengan tanda – tanda kita mencoba mencari keteraturan di tengah – tengah dunia yang centang – perenang ini, setidaknya agar kita punya sedikit pegangan. Banyak terkadang orang – orang yang tidak mampu membaca sebuah tanda, dan hanya terpaku pada sebuah kata yang tercermin dalam kehidupan sehari – hari.
Sebagai salah satu pemikir strukturalis yang handal dan rajin mempraktikan model linguistik dan semiologi Saussurean Roland Barthes juga intelektual dan kritikus sastra Perancis yang populer dalam penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran ke – 2, yang dibangun diatas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang dalam mythologies - nya secara tegas ia membedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan ataran pertama. Melanjutkan studi Hjemslev, Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja :
Gambar 1.1 Peta tanda Roland Barthes
Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja.
Gambar. Peta tanda Roland Barthes
Sumber: Paul Colbey & Litza Jansz. 1999. Introducing Semiotics. NY: Totem Books, hlm.51.
Barthes dalam kutipan Alex Sobur dalam buku Semiotika Komunikasi
menyatakan bahwa :
Dari peta Barthes terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri dari atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain hal tersebut merupakan unsur material : hanya jika ada mengenal tanda “singa”, barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian, menjadi mungkin (1999:51).
Konotatif tidak sekedar memilih makna tambahan, tetapi juga mengandung kedua unsur bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Barthes memberikan sumbangan yang sangat berarti berupa penyempurnaan semiologi Saussure, yang berhenti pada tataran denotatif. Konotasi identik dengan operasi ideologi yang disebutnya sebagai “mitos”, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku pada periode tertentu. Mitos juga memiliki tiga demensi penanda, petanda, dan tanda. Mitologi mempelajari bentuk – bentuk tanda bahasa tersebut karena pengulangan konsep terjadi dalam wujud yang bermacam.
Kegiatan membaca berarti menggali fondasi-fondasi kultural yang terpendam dalam setiap pribadi. Pembaca membaca ‘melalui’ bahasa bukan ‘dalam’ bahasa. Bahasa bukan kehidupan, bahasa menceritakan kehidupan. Karya sastra tidak secara langsung mendidik pembaca, tetapi karya sastra menampilkan citra energetis yang secara langsung berpengaruh terhadap kualitas emosional, yang kemudian berpengaruh pada kualitas lain, seperti pendidikan, pengajaran, etika, budi pekerti, dan sistem norma yang lain. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa akibat-akibat yang ditimbulkan oleh karya sastra bersifat tidak langsung. Dari fungsi pesan, peneliti menjabarkan lagi menjadi pembentukan pesan – pesan dalam konteks kehidupan dalam sebuah masyarakat sebagai ekspresi. Dibawah ini keseluruhan diatas digambarkan sebagai berikut.
Gambar 1.2
Bagan Kerangka Pemikiran
Analisis Semiotika Krisis Identitias Bait Puisi Gus Mus– Tahun Baru
Sumber : Olahan Peneliti dan Pembimbing Peneliti 2011
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin, yaitu communicatio yang berarti pemberitahuan atau pertukaran, dan berpangkal dari kata sifat communis (Wiryanto, 2004:5). Arti dari kata communis adalah membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih (Cangara, 2003:18).
Sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial, definisi-definisi yang diberikan para ahli pun menjadi semakin banyak dan beragam. Masing-masing mempunyai penekanan arti, cakupan, dan konteksnya yang berbeda satu sama lainnya.
Seorang pakar Sosiologi Amerika bernama Everett M. Roger mendefinisikan komunikasi sebagai “proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka” (Cangara, 2003:19).
Mulyana dalam bukunya Ilmu komunikasi Suatu pengantar menjelaskan bahwa:
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari kata lain communis yang berarti ”sama”, communico, communicatio, atau communicare yang berarti ”membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata lain lainnya yang mirip. Komunikasi yang menyarankan bahwa suatu pikirin, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. (2000:2005)
Selanjutnya Widjaja (2000:15) menyimpulkan bahwa “komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan dapat berhasil baik apabila sekiranya timbul saling pengertian, yaitu jika kedua belah pihak, si pengirim dan si penerima informasi dapat memahaminya.”
Berdasarkan teori-teori yang dijabarkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari sumber kepada penerima agar terciptanya pengertian sehingga akan menjadi sebuah rangsangan yang akhirnya dapat mengubah tingkah penerima pesan.
2.2 Proses Komunikasi
Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa berupa gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.
Suatu proses komunikasi dapat dikatakan efektif atau berhasil bilamana diantara penyebar pesan (komunikator) dan penerima pesan (komunikan) terdapat satu pengertian yang sama mengenai isi pesan. Isi pesan disampaikan oleh penyebar melalui lambang yang berarti. Lambang-lambang itu dapat dikatakan sebagai “kendaraan” untuk membawa pesan kepada si penerimanya.
Dalam buku Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, Effendy membagi proses komunikasi menjadi dua tahap, yaitu:
1. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang atau simbol sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah pesan verbal ( bahasa ), dan pesan nonverbal ( kial/gestur, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya ) yang secara langsung dapat atau mampu menerjemahkan pikiran dan perasaan komunikator kepada komunikan.
2. Proses komunikan secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media setelah memakai lambang sebagai media pertama.(1994:11)
Seperti dalam pengertian di atas, komunikasi berlangsung jika terjadi kesamaan dalam memaknai pesan yang diterima oleh komunikan. Yang berarti, komunikasi adalah proses pembuatan pesan yang bermanfaat bagi komunikator dan juga komunikan.
2.3 Tujuan dan Fungsi Komunikasi
Tujuan dan Fungsi Komunikasi
Komunikasi dalam pelaksanaannya mempunyai tujuan dan fungsi sendiri. Tujuan dari komunikasi adalah : mengubah sikap (to change attitude), mengubah opini/ pendapat/ pandangan (to change the opinion), mengubah perilaku (to change the behaviour) dan mengubah masyarakat (to change the society)
Effendy menjelaskan empat fungsi komunikasi dalam bukunya Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, sebagai berikut:
1. Menyampaikan informasi (to inform) dengan komunikasi, komunikator dapat menyampaikan informasi kepada komunikan. Serta terjadi pertukaran informasi antara komunikator dan komunikan.
2. Mendidik (to educate) komunikasi sebagai sarana untuk mendidik, dalam arti bagaimana komunikasi secara formal maupun informal bekerja untuk memberikan atau bertukar pengetahuan, dan kebutuhan akan pengetahuan dapat terpenuhi. Fungsi mendidik ini dapat juga di tunjukan dalam bentuk berita dengan gambar maupun artikel.
3. Menghibur (to entertain) komunikasi menciptakan interaksi antara komunikator dan komunikan. Interaksi tersebut menimbulkan reaksi interaktif yang dapat menghibur baik terjadi pada komunikator maupun komunikan.
4. Mempengaruhi (to influence) komunikasi sebagai sarana untuk mempengaruhi, terdapt upaya untuk mempengaruhi komunikasi melalui isi pesan yang di kirim oleh komunikator. Uapaya tersebut dapat berupa pesan persuasif (mengajak) yang dapat mempengaruhi komunikan. Komunikan dapat membawa pengaruh positif atau negatif, dan komunikan dapat menerima ataupun menolak pesan tersebut tanpa ada paksaan.
2.4 Karya Sastra sebagai Media Komunikasi
Media komunikasi bukan hanya terpaku pada media komunikasi massa seperti pada umumnya berupa televisi, radio, dan koran saja. Karya sastra juga merupakan media untuk mengkomunikasikan ide atau gagasan si pencipta kepada khalayak luas. Pencipta karya sastra bisa menuangkan saran, sindiran, atau informasi lainnya sesuai dengan peristiwa aktual. Puisi merupakan salah satu karya sastra yang dapat dijadikan media komunikasi, karena penyajian pesan komunikasinya dengan cara menumpangkan pada suatu objek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak. Kita dapat mengetahui pesan dari puisi tersebut tentunya dari amanat, baik yang tersirat maupun yang tersurat.
Karya sastra memiliki nilai estetis sekaligus etis, seperti yang diungkapkan oleh Sobur dalam bukunya Semiotika Komunikasi, sebagai berikut :
Berbeda dengan gejala komunikasi pada umumnya, komunikasi dalam wacana sastra ditujukan untuk membuahkan efek keindahan tertentu. Efek keindahan tersebut bukan merujuk pada dunia di luar wacana sastranya, melainkan pada unsur-unsur yang secara potensial teremban dalam karya sastra itu sendiri secara internal. Karena itulah komunikasi dalam wacana sastra juga dapat disebut sebagai bentuk komunikasi puitik (Aminudin, 1997:78)
Dalam lapangan sastra, karya sastra dengan keutuhannya secara semiotik dapat dipandang sebagai sebuah tanda (Sobur, 2009:141). Sastra menjadi bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat dimana ia hidup. satu wujud karya seni yang bermediumkan bahasa. tanggapan pengarang terhadap fenomena yang ada dalam masyarakat, sebagai altenatif solusinya. Di dalam sastra juga memasukkan prinsip-prinsip komunikasi, seperti komunikator, media atau saluran, komunikan, pengaruh, dan umpan balik. Prinsip komunikasi yang dimaksud dalam sastra berkaitan dengan sastrawan, penikmat dan pembaca karya sastra, dan karya sastra. Adapun pengaruh dan umpan balik, dapat berkaitan dengan harapan sastrawan dan motif sastrawan menciptakan suatu karya sastra.
Sastra menjadi bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat dimana ia hidup (Sunardi, 2004:14). Tanda-tanda yang digunakan dalam dunia sastra adalah tanda yang sedang berlaku pada tempat tertentu dan masa tertentu. Konsep tanda di sini, sangat berkaitan dengan konteks sosial buadaya yang sedang berkembang sehingga konsep tanda di sini sudah mempunyai dasar yang kongkrit karena sudah merujuk pada referensi tertentu. Seperti yang diungkapkan oleh Ratna dalam bukunya Sastra dan Cultural Studies, sbagai berikut :
Karya sastra membangun dunia melalui kata-kata sebab kata-kata memiliki energi. Melalui energi itulah terbentuk citra tentang dunia tertentu, sebagai dunia yang baru. Melalui kualitas hubungan paradigmatis, sistem tanda dan sistem simbol, kata-kata menunjuk sesuatu yang lain di luar dirinya. Kata-kata itupun memiliki aspek dokumenter yang dapat menembus ruang dan waktu, melebihi kemampuan aspek-aspek kebudayaan yang lain (2005:15)
Komunikasi sastra merupakan komunikasi tertinggi, sebab mekanisme unsur-unsur yang paling luas. Schmidt misalnya, menjelaskan bahwa komunikasi sastra melibatkan proses total yang meliputi : 1) Produksi teks, yaitu aktivitas pengarang dalam menghasilkan teks tertentu; 2) Teks itu sendiri dengan berbagai problematikanya; 3) Transmisi teks, yaitu melalui editor, penerbit, toko-toko buku, dan pembaca; dan 4) Penerima teks, yaitu melalui aktivitas pembaca (Ratna, 2003:136). Jadi untuk mengetahui nilai yang tersirat dalam karya sastra, perlu kiranya mempertimbangkan hubungan karya sastra dengan proses produksi dan konsumsi sastra di samping teks yang tertuang dalam karya sastra, lalu mencermati penjelasan dalam teks sastra.
Jakobson (1987:71) menggambarkan posisi karya sastra sebagai gejala komunikasi puitik dengan bagan sebagai berikut :
Gambar 4.4 Karya Sastra sebagai Bentuk Komunikasi Puitik
Sumber: Roman Jakobson. 1987. Language in Literature. Kristina Promorska dan Stephen Rudy (ed.). London: Harvard University Press, hlm. 71.
Spesifikasi di atas di jelaskan oleh Jakobson dalam Sobur 2009: 143, setelah dihubungkan dengan karateristik komunikasi sastra, fungsi bahasa meliputi (i) emotif, (ii) referensial, (iii) puitik, (iv) fatis, (v) metalingual atau metabahasa, dan (vi) konatif.
Sobur menjelaskan kembali dalam buku Semiotika Komunikasi,
Dengan model tersebut memungkinkan Jakobson untuk melanjutkan konsepnya mengenai fungsi puitik. Fungsi puitik bertumpu pada orientasi spesifik pembaca ke arah pesan, yang dirangasang oleh kualitas-kualitas tertentu pesan itu. Fungsi puitik itu kerap didefinisikan oleh Jakobson sebagai “seperangkat (einstellung) yang mengarah kepada pesan secara terpusat (Segers, 200:16), atau dikatakan juga “merupakan fungsi dari ekspresi pemikiran bahasa puitik”. Menurut Jakobson, salah satu fungsi dari pesan-pesan tersebut adalah penggunaan alat-alat literatur sebagai metafora dan metonimi. Pesan-pesan juga memiliki fungsi-fungsi emotif dan referensial (Bergers, 2000a:208)
Yang dinamakan fongsi emotif atau fungsi ekspresif yang berfokus pada pengirim, menurut Jakobson (1996:70), menunjukkan ekspresi langsung dari sikap pembicara terhadapa apa yangdibicarakan. Hal ini menurutnya, cenderung menimbulkan kesan emosi tertentu, baik yang betul-betul maupun yang dibuat-buat.
2.5 Pengertian Semiotika
2.5.1 Semiotika Struktural
Semiotika atau yang juga dikenal sebagai semiologi telah menjadi alat analisis yang populer untuk meneliti isi dari media dan telah banyak digunakan oleh para mahasiswa ilmu komunikasi dalam meneliti makna dari pesan yang termuat dalam media massa. Bagi para ahli semiotika, pesan (massage) dari media massa menjadi bagian terpenting untuk dikaji, dan bagi mereka isi media massa adalah produk dari penggunaan tanda-tanda bahasa (sign). Pendekatan ini berfokus pada cara produsen tanda bahasa (author) membuat tanda bahasa dan cara khalayak memahaminya.
Barthes, yang dikutip Alex Sobur dalam bukunya Semiotika Komunikasi menjelaskan bahwa “semiologi pada dasarnya mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal – hal (things).(2003:15). Memaknai berarti dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan. Memaknai berarti bahwa objek – objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek – objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Pengertian Semiotika sendiri oleh Barthes yang dikutip oleh Alex Sobur dalam bukunya Semiotika Komunikasi menjelaskan :
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda – tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah – tengah manusia dan bersama – sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal – hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek – objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek – objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (2001:53)
Pada mulanya semiotika dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure dan Roland Barthes serta kemudian banyak dikembangkan Jean Baudrillard, salah seorang pemikir posmoderisme yang terkenal.
Dalam kajian semiotika, bukan “isi” yang menentukan makna, tetapi “relasi-relasi” dalam berbagai sistem, seperti yang diutarakan oleh Saussure bahwa sifat yang paling tepat untuk untuk menggambarkan konsep tersebut adalah “ada dalam keberadaannya, sedang yang lain tidak”. Sehingga tidak ada makna pada dirinya sendiri, karena semua terbentuk dari relasi (Saussure dalam Berger 2000 : 7).
Konsepsi yang dikemukakan oleh Saussure ini kemudian dikembangkan oleh Roland Barthes untuk memahami mitos (myth) yang lahir dari tanda bahasa. Mitos lahir melalui konotasi tahap kedua di mana rangkaian tanda yang terkombinasikan sebagaimana dalam film disebut sebagai teks (text) akan membentu pemaknaan tingkat kedua (secondary signification)
Berbagai tanda bahasa yang saling berelasi kemudian akan membentuk teks (text). Istilah “teks” sendiri berasal dari Bahasa Latin texture yang berarti rajutan, sehingga teks dapat diartikan sebagai rajutan dari berbagai tanda bahasa yang melahirkan makna-makna. Makna inilah kemudian melahirkan representasi (representation).
Barthes, yang dikutip Alex Sobur dalam bukunya Semiotika Komunikasi menjelaskan bahwa “semiologi pada dasarnya mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal – hal (things) (2003:15). Memaknai berarti dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan. Memaknai berarti bahwa objek – objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek – objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda.
Ferdinand de Saussure dalam Course in General Linguistics yang dikutip Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Hipersemiotika menjelaskan semiotika adalah ilmu yang mempelajari peran tanda (sign) sebagai bagian dari kehidupan sosial. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari struktur, jenis, tipologi, serta relasi – relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat. Oleh sebab itu, semiotika mempelajari relasi diantara komponen – komponen tanda, serta relasi antara komponen – komponen tersebut dengan masyarakat penggunanya.
Terdapat prinsip-prinsip dasar pada pemikiran Saussure mengenai teori semiotika:
1. Prinsip structural, memandang relasi tanda sebagai relasi structural, yang didalamnya tanda dilihat sebagai sebuah kesatuan antara sesuatu yang bersifat material. Kecenderungan ke arah pemikiran struktur ini disebut strukturalisme, relasi secara total unsur – unsur yang ada didalam sebuah sistem (bahasa) sehingga yang diutamakan bukanlah unsure itu sendiri, melainkan relasi diantara unsur – unsur tersebut. Apa yang disebut makna tidak dapat ditemukan sebagai bagian intrinsik dari sebuah unsur, melainkan sebagai akibat dari relasi total yang ada dengan unsur – unsur lain secara total.
2. Prinsip kesatuan (unity). Sebuah tanda merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara bidang penanda yang bersifat konkrit atau material (suara, tulisan, gambar, objek) dan bidang petanda (konsep, ide, gagasan, makna) meskipun penanda yang abstrak dan nonmaterial tersebut bukan bagian intrinsic dari sebuah penanda, akan tetapi oleh Saussure ia dianggap hadir (present) bersama – sama penandanya yang konkrit, dan kehadirannya absolute.
3. Prinsip konvensional (conventional). Relasi struktural antara sebuah penanda dan petanda, dalam hal ini, sangat bergantungan pada apa yang disebut konvensi (convention), yaitu kesepakatan sosial tentang bahasa (tanda dan makna) di anatara komunitas bahasa. Hanya karena adanya konvensi yang memungkinkan tanda memiliki dimensi sosial, dan dapat digunakan di dalam wacana komunikasi social. Bahwa relasi antara penanda dan petandanya disepakati sebagai sebuah konvensi sosial.
4. Prinsip sinkronik (synchronic). Keterpakuan pada relasi struktural menempatkan semiotika sebagai sebuah kecenderungan kajian sinkronik, ysitu kajian tanda sebagai sebuah sistem yang tetap di dalam konteks waktu yang dianggap konstan, stabil, dan tidak berubah. Dengan demikian, mengabaikan dinamika, perubahan, serta transformasi bahasa itu sendiri di dalam masyarakat. Penekanan semiotika struktural pada apa yang disebut Saussure langue (atau system bahasa) yang dianggap telah melupakan sifat berubah, dinamis, produktif, dan transformative dari parole (penggunaan bahasa secara actual dalam masyarakat).
5. Prinsip representasi (representation). Semiotika stuktural dapat dilihat sebagai sebuah bentuk representasi, dalam pengertian sebuah tanda mempresentasikan realitas, yang menjadi rujukan atau refrensinya. Hubungan tanda dan realitas lebih bersifat mewakili. Keberadaan tanda sangat bergantung pada keberadaan realitas yang dipresentasikannya. Realitas mendahului tanda dan menentukan bentuk dan perwujudannya, ketiadaan realitas berakibat logis pada ketiadaan tanda.
6. Prinsip kontinuitas (continuity). Ada kecenderungan pada semiotika struktural untuk melihat relasi antara sistem tanda dan penggunaannya secara sosial sebagai sebuah continuum. Yang dapat disebut juga semiotic continuum, yaitu sebuah relasi waktu yang berkelanjutan dalam bahasa, yang di dalamnya berbagai tindak penggunaan bahasa selalu secara berkelanjutan mengacu pada sistem atau struktur yang tidak pernah berubah, sehingga di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perubahan radikal pada tanda, kode, dan makna. Perubahan hanya dimungkinkan secara sangat evolutif, yaitu perubahan kecil pada berbagai elemen bahasa, sebagai akibat logis dari perubahan sosial itu sendiri.
Pembacalah yang mengkaitkan tanda dengan apa yang di tandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dalam penelitian sastra misalnya, kerap di perhatikan hubungan sintaksis antara tanda – tanda (structuralism) dan hubungan tanda – tanda apa yang ditandakan (semantic). Tanda – tanda (signs) adalah basis dari bidang komunikasi. Manusia dengan perantara tanda – tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya.
Pandangan lain tentang tanda, dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce yang dikutip Alex Sobur dalam bukunya Semiotika Komunikasi mengatakan:
Bahwa tanda – tanda yang berkaitan dengan objek – objek yang menyerupai, keberadaannya memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda – tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda – tanda tersebut.(2003:34).
2.5.1 Semiotika Post-strukturalisme
Semiotika poststrukturalis juga sering disebut dengan Hipersemiotika karena bukan semiotika konvensional. Post-strukturalisme adalah sebuah madzhab pemikiran yang merupakan reaksi terhadap strukturalisme, yang membongkar setiap klaim oposisi pasangan, hirarki, dan validitas kebenaran universal.
Para tokoh hipersemiotika serta kaum postsrukturalis seperti Barthes, Foucault, Derrida, Deluze & Guattari dan Kristeva mencoba membuat suatu prinsipil dalam mencoba membongkar tembok oposisi biner ini, dan mengembangkan. Tertuang dalam buku Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna karangan Yasraf Amir Piliang yaitu:
1. Prinsip perubahan dan transformasi. Hipersemiotika menekankan pada perubahan tanda ketimbang struktur tanda, produksi tanda-tanda ketimbang reproduksi kode dan makna, dinamika pembiakan tanda yang tak terhingga ketimbang relasi yang tetap. Reproduksi semiotic adalah relasi, yang di dalamnya tanda (penanda dan petanda/bentuk dan makna) selalu diproduksi ulang dalam bentuk yang sama oleh mein reproduksi semiotika. Artinya, semiotika semacam ini sangat menggantungkan dirinya pada konvensi dank anon – kanon. Produksi semiotika sebagai ciri hipersemiotika, sebaliknya, adalah sebuah relasi yang didalamnya tanda-tanda tidak lagi menggantungkan dirinya pada konvensi, kode, atau makna yang ada, dan membiak tanpa batas dan tanpa pembatas lewat sebuah mesin produksi semiotic yang terus berputar tanpa henti.
2. Prinsip Imanensi (immanency). Hipersemiotika menekankan sifat imanensi sebuah tanda ketimbang sifat transendensinya, permainan permukaan material (fisik) ketimbang kedalaman (metafisik), permaianan penanda ketimbang petanda, pengolahan bentuk ketimbang ketetapan makna, permainan kulit (surface) ketimbang kepastian isi (content), penjelajahan jagat raya simulasi ketimbang kanon-kanon representasi. Ketika rantai yang menghubungkan penanda dan petanda, konsep atau makna dalam sebuah relasi pertandaan diputuskan, maka yang terbentuk adalah sebuah tanda yang tidak lagi menggantungkan dirinya pada rujukan realitas, dan mengembangkan dirinya didalam sebuah medan permaianan pure simulacrum atau pure immanence, yang membentuk sebuah dunia hiperealitas. Dengan demikian, ada kecenderungan posmetafisik pada hipersemiotika, dalam pengertian bahwa yang dirayakan di dalamnya adalah permainan bebas petanda (yang metafisik) hanya sebagai alibi saja dari permainan tersebut.
3. Prinsip perbedaan atau pembedaan (difference). Hipersemiotika menekankan perbedaan (difference) ketimbang identitas, konvensi, dan kode sosial. Dalam hal ini, harus dibedakan antara konsep perbedaan dan kebaruan (newness). Hipersemiotika bukanlah mesin kebaruan seperti mesin modernism, yang mengharuskan adanya kebaruan, yaitu sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Ia, sebaliknya, adalah mesin pembedaan (difference machine) yang raison d’etre-nya adalah memproduksi jagat raya perbedaan-perbedaan tanda, yang tidak selalu harus baru. Sehingga penjelajahan menelusuri puing-puing tanda masa lalu (pastiche) sangat dirayakan di dalamnya, dalam rangka menciptakan relasi-relasi dialogis antar waktu dan antar ruang (ruang-waktu masa lalu/masa kini/masa depan) di dalam sebuah wadah ruang yang sama.
4. Prinsip permainan bahasa (language game). Hipersemiotika menekankan permainan pada tingkat parole ketimbang langue, event ketimbang system, reinterpretasi terus-menerus tanda ketimbang pembangunan ulang struktur. Dengan demikian, adalah mesin permainan bahasa yang memproduksi secara terus-menerus rimba raya permainan tanda-tanda sebagai komoditi, tanpa merasa perlu mengkaitkan diri pada sebuah sistem yang tetap, semata dalam rangka menghasilkan keterpesonaan, kesenangan, gairah, dan ekstasi dalam bermain itu sendiri. Yang dipentingkan di dalamnya adalah pesona dam tindak produksi tanda itu sendiri bukan makna yang terkandung di dalamnya. Hipersemiotika, dengan demikian adalah sebuah mesin pembunuh makna, yang di dalamnya makna tidak mendapatkan ruang hidup disebabkan hegemoni permainan bebas pada tingkat permukaan tanda (penanda)—a semiotic killing machine.
5. Prinsip simulasi (simulation). Simulasi adalah penciptaan realitas yang tidak lagi mengacu pada realitas di dunia nyata sebagai refrensinya, dan kini menjelma menjadi semacam realitas kedua (second reality) yang refrensinya adalah dirinya sendiri (simulacrum of simulacrum) dengan demikian, simulasi bukanlah sebuah bentuk representasi. Bahasa atau tanda-tanda di dalamnya seakan-akan merefleksikan realitas yang sesungguhnya, padahal ia adalah realitas artifisial, yaitu realitas yang diciptakan lewat teknologi simulasi, sehingga pada tingkat tertentu realitas ini tampak (dipercaya) sebagai sama nyatanya atau bahkan lebih nyata dari realitas yang sesungguhnya. Dalam pengertian inilah, tanda melebur dengan realitas artinya lewat kecanggihan teknologi simulasi, antara tanda dan realitas tidak ada lagi bedanya. Fenomena meleburnya tanda dan realitas ini sebagai cirri hipersemiotika dengan sangat mudah ditemukan di dalam media-media digital seperti internet.
6. Prinsip diskontinuitas (discontinuity). Hipersemiotika menekankan pada diskontinuitas semiotic ketimbang kontiunitas semiotik. Semiotic continuum adalah durasi atau ekstensi yang berkelanjutan dan homogeny secara absolut, yang di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perbedaan tanda, kode, dan makna sebuah sekuensi beraturan semiotik yang sama sekali tanpa interupsi. Semiotic discontinuum, sebaliknya adalah durasi atau ekstansi yang penuh interupsi, keterputusan (break), dan persimpangan (rupture) yang di dalamnya tercipta sebuah ruang bagi perbedaan dan permainan bebas tanda dank kode-kode. Bahasa disarati oleh rimba raya kejutan-kejutan yang menggiring setiap orang untuk semakin menjauh dari sistem atau struktur awal yang mengikat mereka. Kejutan-kejutan interupsi semiotik dunia realitas yang dikuasai oleh komoditi dan tanda-tanda kapitalisme seperti pada semiotika MTV, yang di dalam makna menjadi realitas marjinal disebabkan begitu hegemoniknya permainan pada tingkat permukaan penanda.
Dengan demikian, tidak dapat dipisahkan dari dunia hiperalitas yang dilukiskan oleh Baudrillard, sebuah dunia realitas yang dalam konstruksinya tidak bias dilepaskan dari produksi dan permainan bebas tanda – tanda yang melampaui (hyper-sign) sebuah tanda yang melampaui prinsip, definisi, struktur, dan fungsinya sendiri. Dapat dipandang sebagai sebuah dunia perekayasaan (dalam pengertian distorsi) realitas lewat hyper-sign sehingga tanda – tanda tersebut kehilangan kontak dengan realitas yang di representasikannya. Hiperealitas menciptakan satu kondisi yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dusta bersenyawa dengan kebenaran. Kategori – kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan – akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu.
2.6 Kajian Semiotika dalam Karya Sastra
Saatra selain mempunyai nilai sebagai objek seni juga mempunyai karakater unik dan ciri khas dalam menyampaikan pesan kepada pembacanya. Dengan menampilkan kekayaan linguistik seperti metafora , allegori dan majas-majas, karya sastra sangat berpotensi untuk digali dan dipelajari lebih dalam karena bagian dari kajian budaya yang majemuk.
Dalam menciptakan sastra, sastrawan mengambil realitas sebagai gambaran yang akan dibingkai dengan kecermatan sastrawan dalam meyusun diksi dan gaya bahasa. Diksi dan gaya bahasa adalah satu kesatuan dari sistem tanda yang ada didalam karya sastra. Dengan mengenali dinamika tanda dan relasi tanda yang ada pada karya sastra, kita dapat menganalisis makna-makna yang menjadi simbol dalam karya sastra dengan pendekatan semiotika.
Sobur dalam buku semiotika komunikasi menjelaslan:
Penelitian sastra dengan pendekata semiotika merupakan lanjutsan dari pendekatan strukturalis. Alasannya adalah karya sastra itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Tanpa memeprhatikan struktur tanda tersebut , karya sastra tidak dapat dimengerti secara optimal. Dalam penelitian sastra dengan pendekatan semiotika, tanda yang berupa indekslah yang paling banyak dicari (diburu), yaitu berupa tanda-tanda yag menunjukan hubungan sebab-akibat (dalam pengertian luas) (2009: 143)
Kehidupan sarat oleh simbol. Hingga tumbuh besar, secara sadar atau pun tidak, manusia terus diikuti beragam simbol-simbol yang harus dipecahkan. Studi mengenai semiotika tak lain mengarahkan dan menuntut kita untuk mengelola simbol yang diterima untuk kemudian bisa digunakan sebagai sarana pemahaman terhadap dirinya sendiri, atau penting juga dalam mengukur tindakan berkaitan dengan hidup dan kehidupan sosialnya. Piliang dalam buku Hipersemiotika menjelaskan:
Dalam proses pemuatan kode makna ke dalam objek seni ada dua aspek seni yang perlu dipertimbangkan yaitu: 1) aspek denotasi dan penampakan objek , yang mengacu pada sifat-sifat gestalt dan keindaraan, dan 2) aspek konotasi dan konsep objek , yang mengacu pada gagasan, citraan, pengalaman, dan nilai-nilai objek seni.
Sedangkan dalam pemuatan makna tertentu pada objek seni, setidaknya ada tiga aspek yang harus di perhatikan, yaitu 1) kode yaitu cara tertentu memilih, menyusun, dan mengkombinasikan tanda-tanda, 2) makna yang diharapkandan 3) ekspresi atau idiom, yakni cara elemen-elemen bentuk dan tanda dikombinasikan sehingga menghasilkan totalitas bentuk, baik yang berupa elemen lingusitik maupun non linguistik. (2010:224)
Jadi, ketika seseorang membaca sebuah karya sastra apakah itu puisi mungkin juga prosa haruslah bisa memecahkan kode-kode simbol yang disampaikan oleh sastrawan. Kode-kode itu sangat ditentukan oleh norma-normal, sosial budaya dalam kaitannya dengan agama, pandangan politik, humanis adat istiadat dan sebagainya.
Menurut barthes (1970: 4), karya sastra mesti ditulis, bukan semata-mata cerita, melainkan pencitraan, sbagai teks, sifatnya aktivitas. Menurut barthes, karya sastra dengan demikian bukan struktur, melainkan strutukrisasi karena di dalam karya sastra pembaca bukan lagi berfungsi sebagai konsumen tetapi sebagai produsen. Dengan adanya pembaca yang berbeda-beda menurut zaman, maka kekinian bukan hanya sekarang, melainkan terjadi pada setiap zaman, generasi, angkatan bahkan pada setiap saat karya sastra diteliti, ketika diaktualisasikan. (Sutrisno,2005: 283)
2.7 Analisis Pendekatan Semiotika Roland Barthes
2.7.1 Sistem Pertandaan
Roland Barthes berusaha mengungkap hubungan antara pemikiran dan masyarakat yang terfokus pada bahasa teks. Barthes berusaha menemukan hubungan yang tidak logis dan irasional dengan mengasosiasikan secara bebas dan menciptakan kata-kata serta makna untuk memberi bumbu pada teks dan segala yang mungkin ada di balik teks-teks yang dikajinya. Dia ingin menunjukkan semua pandangan dan ideologi palsu. Untuk itu dia berusaha membangun satu kerangka menyeluruh yang mampu mengintegrasikan semua tindakan dan karya kreatif di masa lalu dan masa depan melalui bahasa yang digunakan dalam tulisan. Dia berusaha mengabaikan semua konstruksi untuk dapat menemukan semacam bawah sadar arketip yang disebutnya “tingkat nol” yaitu satu ruang sunyi dan tertutup di antara kata-kata yang tertulis yang membuka bagi segala interpretasi dalam hubungan dialektis dengan kata-kata ini dan yang menetralisasi suatu bahasa yang tidak pernah benar-benar netral.
Dalam rangka analisis sastra, Roland Barthes melakukan refleksi atas kondisi historis bahasa sastra, berdasarkan fakta bahwa semua bahasa dibelit oleh makna yang telah melekat padanya, yang ada dalam suatu kebudayaan spesifik sehingga penuh dengan asumsi tentang realitas sosial sebagaimana yang terjadi dalam sastra klasik Perancis yang tidak lepas dari tatanan borjuis yang membentuk realitas dirinya sendiri sehingga “memberi kode” pada nilai-nilai yang ada di dalamnya. Untuk itu, penulis harus bersandar pada “komponen privat ritual sosial” atau “biologi kehidupannya”.
Roland Barthes pernah mengatakan 'Apa yang tidak kita katakan dengan lisan, sebenarnya tubuh kita sudah mengatakannya'. Pernyataan itu mengindikasikan signifikansi bahasa simbolik manusia. Dalam kehidupan ini, manusia selain dibekali kemampuan berbahasa juga dibekali kemampuan interpretasi terhadap bahasa itu sendiri. Bahasa, dalam hal ini, tidak hanya terfokus pada bahasa verbal atau bahasa nonverbal manusia, tetapi juga pada bahasa-bahasa simbolik suatu benda (seperti gambar) atau gerakan-gerakan tertentu. Sutrisno menjelaskan dalam buku Teori-Teori Kebudayaan mengenai konseptual dan terminologi barhes dalam analisis semiotik sebagai berikut:
1 . Langue/ parole: distingsi yang dicetuskan saussure ini tidak hanya dipakai dalam fenomena lingustik tetapi juga dalam konteks semiotik.
2. Signifier/ signified: distingsi saussurian tentang benda atau konsep yang dihadirkan melalui “yang ditandakan” dan tanda yang menghadirkan. Bagi barthes merupakan sesuatu yang esensial dalam sistem penandaan.
3. Syntagm dan system: yang pertama mengacu pada cara bagaimana tanda-tanda disusun melintasi waktu dalam satu susunan. Oleh karenanya, setiap bagian dalam hal ini mengambil nilai lawannya, sementara yang kedua yakni sisitem, mengacu pada perlawanannya yang bisa diganti atau kadang dilihat sebagai paradigma.
4. Denotation dan connotation: keduannya mengacu pada tatanan makna kata. Yang pertama pada makna lugas atau literal, dalam arti menjelaskan sesuatu sebagaimana adanya (denotasi). Yang lain menggunakan arti kiasan (konotasi), dan dalam arti tertentu melibatkan semacam metabahasa. Denotasi berada dalam tingkatan proses yang lebih rendah. (2005:118)
2.7.2 Mithology
Semiotika sebagai cabang ilmu bahasa terbagi dua, yakni semiotika tingkat pertama yang disebutnya dengan linguistik dan semiotika tingkat kedua yang ia sebut 'mitos'.Pembagian semiotika dalam dua tingkatan bahasa itu merupakan mahakaryanya selama mengarungi dunia semiotika. 'Mitos' bukanlah mitos seperti apa yang kita pahami selama ini. 'Mitos' bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal, transenden, ahistoris, dan irasional. Anggapan seperti itu, mulai sekarang hendaknya kita kubur.
Piliang menjelaskan dalam bukunya Hipersemiotika,
Roland barthes mengembangka dua sistem pertandaan bertingkat, yang disebutnya denotasi dan konotasi. Sistem denotasi adalah sistem pertandaan tingkat pertama, yang terdiri dari rantai penanda dan pertanda, yakni hubungan materialitas penanda dan konsep abstrak yang ada di baliknya. Pada sistem konotasi, rantai penanda/petanda pada sistem denotasi menjadi penanda. Menurut Barthes, pada tingkat denotasi, bahasamenghadirkan konversi atau kode-kode sosialyang bersifat eksplisit. Pada tingkat konotasi, bahasa menghadirkan kode-kode yang makna tandanya bersifat implisit, yaitu sistem kode yang tandanya bermuatan makna-makna tersembunyi. Makna tersembunyi ini adalah kawasan dari ideologi atau mitologi (2010:166). Yang dimaksud dengan ideologi adalah sistem gagasan, ide, atau kepercayaan yang menjadi konvensi dan mapan dalam suatu masyrakat, yang mengartikulasikan dirinya pada sistem representasi atau sistem pertandaan. Ideologi, dalam pengertian ini, merupakan fondasi dari rantai pertandaan (2010:167).
Barthes menempatkan ideologi dengan mitos karena, baik di dalam mitos maupun ideologi, hubungan antara penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman, 2001:28). Barthes memahami ideologi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia imajiner dan ideal, meski realitas hidupnya tidaklah demikian. Kebudayaan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks dan, dengan demikian, ideologi pun masuk mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain. (Sobur 2009:71)
Menurut Barthes, 'mitos' adalah type of speech (tipe wicara atau gaya bicara) seseorang. Mitos digunakan orang untuk mengungkapkan sesuatu yang tersimpan dalam dirinya. Orang mungkin tidak sadar ketika segala kebiasaan dan tindakannya ternyata dapat dibaca orang lain. Dengan menggunakan analisis mitos itu, kita dapat mengetahui makna-makna yang tersimpan dalam sebuah bahasa atau benda (gambar). Dalam semiotika terdapat tiga tahapan penting pembentuk makna, yaitu penanda, pertanda, dan tanda. Penanda merupakan subyek, pertanda ialah obyek, dan tanda merupakan hasil perpaduan keduanya. Dalam semiotika tingkat pertama (linguistik), penanda diganti dengan sebutan makna, pertanda sebagai konsep, dan tanda tetap disebut tanda. Sedangkan dalam 'mitos' (semiotika tingkat kedua), penanda dianggap bentuk, pertanda tetap sebagai konsep, dan tanda diganti dengan penandaan. Proses simbolisasi seperti itu bertujuan mempermudah kita dalam membedakan antara linguistik dan mitos dalam semiotika.
Alex Sobur menerangkan dalam buku Semiotika Komunikasi :
Dalam perspektif semiotika, mitos dapat dikaji atau ditemukan jejaknya dengan mencari indikasi fiksional dalam teks, yang secara keseluruhan disajikan sebagai nonfiksional. Kelompok indikasi nonfiksional yang paling penting mungkin ialah indikasi peristiwaan. Peristiwa yang diceritakan boleh jadi sedemikian klise atau begitu tak bisa dipercaya sehingga dunia yang digambarkan, yang pada dasarnya nyata, memperlihatkan tanda-tanda dunia fiktif seperti yang kita kenal dalam dongeng dan sebagainya (2009:210).
Yang jelas kita bisa menemukan ideologi dalam teks dengan jalan meneliti pelbagai konotasi yang ada di dalamnya. Salah satu cara adalah mancari mitologi dalam teks-teks semacam itu. Ideologi adalah sesuatu yang abstrak, sementara mitologi (kesatuan mitos-mitos yang koheren) menyajikan inkarnasi makna-makna yang mempunyai wadah dalam ideologi (2009:209).
2.7.3 Kode Bahasa Estetis
Aktivitas membaca berarti menggali fondasi-fondasi kultural yang terpendam dalam setiap pribadi. Pembaca membaca ‘melalui’ bahasa bukan ‘dalam’ bahasa. Bahasa bukan kehidupan, bahasa menceritakan kehidupan. Karya sastra tidak secara langsung mendidik pembaca, tetapi karya sastra menampilkan citra energetis yang secara langsung berpengaruh terhadap kualitas emosional, yang kemudian berpengaruh pada kualitas lain, seperti pendidikan, pengajaran, etika, budi pekerti, dan sistem norma yang lain. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa akibat-akibat yang ditimbulkan oleh karya sastra bersifat tidak langsung. Barthes mengamati sastra sebagai bahan semiotik yang ia kaji dan selama beberapa tahun ia menuliskan beberapa teori baru yang menjadi acuan dalam penelitian semiotik, khususnya tentang karya sastra. Di antaranya adalah lima kode estetik.
Lima kode yang ditinjau Barthes adalah :
1. Kode hermeneutik adalah kode yang mengandung umit-unit tanda yang secara bersama-sama berfungsi untuk mengartikulasikan dengan berbagai cara dialektik pertanyaan-respon, yang di dalam prosesnya jawaban atau kesimpulan (cerita) ditangguhkan, sehingga menimbulkan semacam enigma.
2. Kode semantik adalah kode yang berada pada kawasan penanda, yakni penanda khusus yang memiliki konotasi. Sebagai contoh, makna konotatif pada nama Pariyem, tidak saja konotatif femininitas, akan tetapi juga menawarkan konotasi koasal geografis dari nama, yaitu ndeso,
3. Kode simbolik adalah kode yang juga mengatur aspek bawah sadar dari tanda yang merupakan kawasan dari psikoanalisis.
4. Kode proaretik adalah kode yang mengatur alur satu cerita atau narasi. Ia disebut juga kode aksi.
5. Kode kebudayaan adalah kode yang mengatur dan membentuk suara-suara kolektif dan anonim dari pertandaan, yang berasal dari pengalaman manusia dan tradisi yang beraneka ragam. Unit-unit kode ini dibentuk oleh beraneka ragam pengetahuan dan kebijaksanaan yang bersifat kolektif.
Kode-kode Barthes diatas dalam kaitannya dengam diskursus seni sangatlah berguna sebagai alat memahami tanda dan bahas estetik posmodernisme.
Tujuan analisis Barthes ini menurut Lechte (2001:196), bukan hanya untuk membanguan suatu sistem klasisifkasi unsur-unsur narasi yang sangat formal, namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal, rincian yang paling menyakinkan, atau teka-teki yang paling menarik, merupakan produk buatan, dan bukan tiruan dari yang nyat (Sobur 2009:67). Hal ini menjelaskan bahwa nilai estetik dalam karyasastra mempunyai hubungan yang erat dengan makna yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Sehingga keterkaitan metafora dalam sistem kode pada karya sastra sangat penting untuk menganalisis struktur makna.
BAB III
METODE PENELITIAN
1.5 Metode Penelitian
1.5.1 Jenis Penelitian
Fenomenologi meyakini kesadaran bukan bagian dari kenyataan, melainkan asal dari kenyataan. Fenomenologi Husserl menolak kesadaran bipolaritas (kesadaran dan alam, subyek dan obyek). Bukan kesadaran yang menemukan obyek akan tetapi obyek diciptakan oleh kesadaran. Dengan pendapat ini, Husserl dekat dengan idealisme. Bagi ilmu-ilmu, kesadaran dan alam memang tampak sebagai dua pola dalam kenyataan. Peneliti menggunakan perspektif fenomenologi karena dengan perspektif ini kita akan mendapatkan gambaran umum dan mendalam dari objek yang ingin kita teliti atau ketahui berdasarkan penampakkan-penampakkan pada diri objek. Dan penampakkan-penampakkan yang dimaksudkan dalam metode fenomenologi merupakan penampakkan yang sama sekali baru. Karena kesadaran maka realitas muncul, hal inilah yang menjadi subtansi dari fenomenologi . Peneliti berusaha memahami arti hubungan realitas dengan kesadaaran dan kaitan – kaitannya terhadap individu – individu dalam bermasyarakat.
Di dalam buku Metode – metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication, Daymond dan Holloway secara implisit menjelaskan bahwa: ” metode penelitian fenomenologi bisa didefinisikan sebagai sebuah metode penelitian yang mencoba memahami pandangan yang dimiliki partisipasi penelitian tentang kenyataan – kenyataan sosial “.(2008:228). Metode yang digunakan oleh penelitian adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika. Qualitative Research adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan – penemuan yang yidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistic atau dengan cara kwantifikasi lainnya. Penelitian kualitatif dapat digunakan untuk meneliti kehidupan masyarakat ,sejarah,tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, pergerakan-pergerakan sosial ,atau hubungan kekerabatan.
Sementara itu Bogdan dan Taylor yang dikutip dalam buku Penelitian Kualitatif menyatakan bahwa:
Penelitian kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan, tulisan atau perilaku orang-orang yang diamatin.Melalui penelitian kualitatif, penelitian dapat mengenali subjek dan merasakan apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari (1992:21-22)
Berdasarkan pengertian di atas , penelitian kualitatif adalah salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang pernyataan melalui proses berfikir induktif. Dalam penelitian ini,penelitian terlibat dalam situasi dan setting fenomena yang diteliti. Penelitian diharapkan selalu memusatkan perhatian pada kenyataan atau kejadian dalam konteks yang diteliti. Setiap kejadian merupakan sesuatu yang unik dan berbeda dengan yang lain karena ada perbedaan konteks.
Metode kualitatif berusaha untuk mengungkapakan berbagai keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat, dan atau suatu organisasi dalam kehidupan seari-hari secara menyeluruh dan rinci dalam dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sedangkan untuk meneliti bait puisi seringai citra natural penulis menggunakan analisis semiotika Rolan Barthes.
1.5.2 Subjek Penelitian
Subjek Penelitian adalah puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru, yang membahas tentang ketiadaan kesempatan untuk mengkritik diri sendiri hilang, namun kritik pada pihak lain tak henti-hentinya dilakukan. Melihat borok orang lain sangat lihai sementara melihat borok sendiri acapkali lalai. Peribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak adalah cermin dari pola pendekatan hidup hipokrit dalam bermasyarakat kita yang cenderung semakin akut. Gus Mus adalah seorang kiai, pengasuh pondok pesantren, ustaz, mubaligh, cendekiawan, penulis, kolomnis, budayawan, atau seniman
Selain itu, pesan-pesan yang terangkai dalam bait puisi gusmus dapat kita implementasikan melalui kajian yang bersifat teoretis dan praksis. Kajian teoretis di arahankan untuk membedah wacana, konsepsi dan interpretasi, serta pemikiran dan filsafat estetis dalam perspektif kebudayaan Islam. Dipilihnya puisi yang berjudul tahun baru karangan Gus Mus tersebut karena peneliti menganggap puisi tersebut sebagai karya sastra telah mewakili unsur-unsur dan kategori-kategori tanda yang ada dalam semiotika Roland Barthes. Karakteristik tulisan Gus Mus kebanyakan lebih banyak memuat tentang Agama dan Kebudayaan, keindahan kata-kata yang mengalir dan mampu menembus ruang-ruang sejuknya dalam hati ketika tulisan Gus Mus diperdengarkan. Puisi-puisinya merefleksikan pertemuan kesadaran religius dan bangunan intuitif pada satu titik: dia bersifat sangat personal sekaligus sosial. Pada puisi-puisi ciptaan Gus Mus, kita akan tetap merasakan dimensi sosial yang hendak diperjuangkan. Di ranah intelektual, Gus Mus pernah mendapat gelar Doktor Honoric Causa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di ranah sastra ia pernah mendapat anugerah dari Majelis Sastra Asia Tenggara. Kecakapan Gus Mus dalam mencermati segala fenomena keagamaan dan kebangsaan membuatnya terlihat santun dalam menyikapi aneka persoalan.
Menciptakan kaya sastra sejenis puisi memerlukan kepekaan tinggi dan kedalaman pengetahuan budaya. Sebagai budayawan, Gus Mus pandai memilih topik yang dekat dengan masyarakat kita, menyangkut kepentingan sosial dan mengemasnya dalam karya sastra yang apik. Secata teksnis, puisi tahun baru adalah media komunikasi yang sarat dengan muatan kritik sosial sekaligus kritik pribadi.
1.5.3 Teknik Pengumpulan data
Untuk pengumpulan data yang akan diteliti dalam penelitian ini, peneliti memakai:
a. Teknik observasi
Karena bait yang aka diteliti dari puisi ini merupakan sebuah produk subjektivitas pendengar melalui proses pemberian pesan. Analisis bait “Tahun Baru“ menjadi patokan utama dari peneliti sehingga memperjelas makna isi baitnya.
b. Studi Kepustakaan
Dibutuhkan untuk memperkuat argumentasi. Kemapuan peneliti untuk menyusun kerangka teoretis akan sangat terkait dengan uapaya penyelusuran studi kepustakaan. Sebagai sejumlah refrensi mendukung dan tepat dalam pembahasan ruang lingkup kajian yang diambil. Sumber dari studi kepustakaan berupa: bait puisi Tahun Baru dan Teori – teori yang menjadi acuan analisis.
1.5.4 Teknik Analisis Data
Proses mencari dan mnenyusun secara sistemati data yang diperoleh, sehinggadapat mudah dipahami temuannya serta hasil informasi yang ditemukan dapat diinformasikan kepada orang lain adalah pengertian dari analisis data. Analisis yang digunakan adalah analisis semiotika semiologi dari Roland Barthes yang lebih menekankan pada sistem tanda sehingga seluruh fenomena sosial yang ada dapat ditafsirkan sebagai ‘tanda’ alias layak dianggap sebagai sebuah lingkaran linguistik. Berbeda dengan saussure yang hanya berhenti pada penandaan pada lapis pertama atau pada tataran denotatif semata, Barthes membuka wilayah pemaknaan konotatif ini, ‘pembaca’ teks dapat memahami penggunaan gaya bahasa kiasan dan metafora yang itu tidak mungkin dapat dilakukan pada level denotatif. Lebih dari itu, di samping gagasannya dapat dimanfaatkan untuk menganalisis media, semiotika konotasi ala Barthesian ini memungkinkan penggunaannya untuk wilayah-wilayah lain seperti pembacaan terhadap karya sastra dan fenomena budaya kontemporer atau budaya pop.
Dalam proses analisis kualitatif, terdapat tiga kompoen utama, yaitu (1) reduksi data, (2) sajian data dan (3) penarikan simpulan dan verifikatif (Miles &Huberman, 1984). Tiga komponen dibuat dan dikembangkan serta selalu terlibat dalam proses analisis, saling berkaitan, serta mementukan arahan isi dan simpulan, baik yang bersifat sementara maypun simpulan akhir. Ketiga komponen tersebut yaitu:
a. Reduksi data
Reduksi data merupakan komponen utama dalam analisis yang merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abtraksi dari semua jenis informasi yang tertulis jelas dalam catatn lapamgan. Proses ini berlangsung terus sepanjang penelitian. Reduksi data dilakukan dengan membuat ringkasan isi dari catatn data yang diperoleh dari lapangan. Dalam menyususn ringkasan tersebut peneliti juga membuat coding, memusatkan tema, menentukan batas-batas permasalahan. Dengan memperhatikan penjelasan di atas, maka bisa dinyatakan bahwa reduksi data adalah baian dari proses analisa yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus dan mengatur data sedemikian rupa sehingga narasi sajiann data dan simpulan-simpulan dari unit-unit permasalahan yang telah dikaji dalam penelitian dapat dilakukan.
b. Sajian Data
Sajian data merupakan suatu rakitan organisasi informasi, deskripsi dalam bentuk narasi lengkap yang untuk selanjutnya memungkinkan simpulan penelitian dapat dilakukan. Sajian data ini disusun berdasarkan pokok-pokok yang terdapat dalam reduksi data, dan disajikan dengan menggunakan kalimat dan bahasa peneliti yang merupakan rakitan kalimat yang disusun secara logis dan sistematis, sehingga bila dibaca akan mudah dipahami. Unit-unit dalam sajian data ini harus mengacu pada rumusan masalah yang telah dirumuskan sebagai pertanyaan penelitian, sehingga narasi yang tersaji merupakan deskripsi mengenai kondisi yang rinci dan mendalam untuk menceritakan dan menjawab setiap permasalahan yang ada.
c. Penarikan Simpulan dan Verifikasi
Dari awal pengumpulan data, peneliti harus sudah memahami apa arti dari bebrbagai hal yang ditemui dengan melakukan pencatatan peraturan-peraturan, pola-pola, konfigurasi yang mungkn arahan sebab akibat dan berbagai proposisi. Simpulan perlu diverifikasi yang merupakan aktivitas pengulangan untuk tujuan pemantapan, penelusuran datakembali dengan tepat.
Berdasarkan penjelasan mengenai aktivitas analisis, komponendalam analisis data (flow model) Miles dan Huberman ditujukan pada:
Gambar 1.3
komponendalam analisis data (flow model)
Periode pengumpulan data
....................................................
Reduksi data
Antisipasi selama Setelah
Dispaly Data ANALISIS
Selama Setelah
Kesimpulan/ Verifikasi
Selama Setelah
Sumber: Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, 2008, hal . 91
Reduksi dan sajian data harus disusun pada waktu peneliti sudah mendapatkan unit data, dalam penelitian ini data diperoleh dari website internet yang memuat karya puisi gus mus (www.gusmus.net) . Pada waktu pengumpulan sudah berakhir, peneliti mulai melakukan usaha dalam bentuk pembahasan (diskusi) untuk menarik simpulan dan verifikasinya berdasarkan semua hal yang terdapat dalam reduksi maupun sajian datanya.
DAFTAR PUSTAKA
Sobur, Alex.2003. Semiotika Komunikasi. Bandung. PT Remaja Rosda Karya.
Pasundan, Universitas. 2008. Panduan Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi. Bandung.
Nazir, Mohammad. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
Daymond, Crtisme dan Immy Hollowry. 2008. Metode – metode Riset Kualitatif Dalam Public Realtion dan Marketing Communication. Yogyakarta: Bentang.
Effendy, Onong Uchjana. 2007. Ilmu, Teory dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Cira Aditya Bakti.
Labibah Zain & Lathifatul Khuluq , 2009. Gus Mus : Satu Rumah Seribu Pintu . Yogyakarta: Lkis
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode kritan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Rosdakarya
Nazir, Mohammad. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
Pasundan, Universitas. 2008. Panduan Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi. Bandung.
Pialang, Yasraf.2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yoyakarta: Jalasutra.
Sumber lain : www.gusmus.net
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Analisis Semiotika Karya Sastra pada Puisi Gus Mus dalam bait Tahun Baru.
Bab ini membahas mengenai uraian analisis semiotika karya sastra pada puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru dengan teori semiotika Roland Barthes dan dengan pendekatan fenomenologi Edmund Husserl disertai dengan kajian kualitatif ke dalam pembahasan yang sistematis melalui data – data literasi yang dikumpulkan dan kajian mendalam tentang kebudayaan sosial. Bait puisi Gus Mus memiliki susunan diksi yang menarik, ritme yang khusus dan memuat pesan-pesan yang sifatnya lebih personal.
4.2 Fenomena Krisis Identitas dalam Puisi Gus Mus dalam bait Tahun Baru.
Substansi karya sastra adalah pengalaman kemanusiaan dalam segala wujud dan dimensinya.. Karya sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah sosial, keyakinan, prinsip dan kemanusiaan dengan caranya yang khas. Dengan menangkap fenomena dalam realitas sebagai bentuk langkah decoding dan upaya resonansi, refleksi, introspeksi atas realitas tersebut sebagai encoding adalah proses yang dilalui sastrawan dalam menciptakan karya. Renungan atau informasi yang akhirmya dituangkan dalam bentuk sastra mempunyai nilai yang berbeda ketika disampaikan kepada khalayak dibanding dengan peyampaian informasi dengan biasa. Dengan penambahan rasa yang estetis, komunikasi dengan puisi mampu melibatkan naluri kemanusiaan dalam menangkap pesan dalam karya sastra. Dengan demikian, karya sastra ikut mempengaruhi perilaku dengan mengubah kesadaran atau memberikan kesadaran yang baru.
Kesadaran adalah hal yang langka di zaman sekarang. Tidak sesuai dengan namanya, zaman reformasi yang seharusnya merevisi ulang formasi-formasi nilai yang keliru. Di zaman reformasi atas nama kebebasan, maka bebaslah kejahatan dan kecurangan terjadi. Ini adalah contoh dari sebuah fenomena post-realitas, ketika nilai menjadi hilang dan jargon-jargon atas nilailah yang diperebutkan karena jargon diyakini mempunyai nilai tukar. Dengan demikian bukan harapan yang ditumbuhkan dalam era reformasi sekarang ini akan tetapi budaya pesimisme. Pesimis dalam melihat masa depan bangsa karena masyarakat telah mendapati kenyataan bahwa kemunduran moral bangsa terjadi di segala kelas sosial. Kaum elit yang apatis dengan ketimpangan sosial, kaum intelektual yang rela menukar kecerdasannya dengan hal-hal material dan kaum proletar yang pasrah dengan keadaaan yang menganggap kemiskinan adalah takdir. Diantara degradasi-degradasi yang mengancam bangsa indonesia, degradasi prinsiplah yang merupakan degradasi yang paling fatal dalam kehidupan.
Prinsip yang seharusnya menjadi nilai atau tuntunan hidup manusia, malah memudar dan tidak lagi dipercaya sebagai penjamin kebahagiaan. Gejala-gejala keputusasaan telah menjangkiti kesadaran masyarakat yang akhirnya menjadikan masyakat mempunyai paradigma materialistik, egois, pragmatis dan apatis. Gejala-gejala ini akhirnya menjadi budaya sosial yang laten seiring banyaknya fakta yang membenarkan kemunduran sebagai bagian yang dimaklumi oleh masyrakat. Hal ini terjadi secara berangsur-angsur dan akhirnya menjadi keyakinan sosial. Fenomena abnormalitas inilah yang membuat Gus Mus jengah sekaligus bosan melihat realitas tersebut. Sebagai pribadi yang dilahirkan di kelurga religius yang teguh memegang prinsip, Gus Mus tergerak untuk memprotes sistem budaya yang dianggap sebagai sumber bencana sosial. Ia aktif berkegiatan dan berkecimpung langsung di lingkungan sosial, sebagai salah satu pemuka agama sekaligus budayawan Gus Mus menilai kesadaran personal adalah hal yang perlu diperbaiki. Selain produktif menulis puisi dan buku, Gus Mus juga menjadi dikenal sebagai teladan dalam menjadi figur yang toleran, jujur dan sederhana. Kesederhanaanya terlukis dalam bait-bait puisinya yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Walaupun demikian bait puisinya tetap memiliki energi dalam menggugah dan menghentak kesadaran bagi orang yang membaca puisi-puisnya. Lugas dan bernas adalah karakter khas dari gaya puisi Gus Mus.
Budaya adalah salah satu unsur pembentuk karakter dan identitas sosial. Budaya pula yang menjadi center and valuable of mass. Ketika kemuduran prinsip dan moral telah di anggap hal yang wajar maka terjadilah berbagai krisis multi dimensi yang mengakibatkan kehancuran tatanan sistem sosial. Walaupun hal ini sedang terjadi dalam masyarakat kita, Gus Mus tetap merayakan fenomena tersebut dengan terus melahirkan puisi-puisi yang bertema sosial-religius sebagai bentuk obat balsem (meminjam istilah Gus Mus) pereda nyeri batin sesaat atas keprihatinan akan bobroknya sistem nilai dalam masyarakat. Dengan memanfaatkan media sastra yang notabene lebih komunikatif dan pesan kritik sosial yang tersimpan dalam bentuk puisi, Gus Mus turut andil dalam menyebarkan kesadaran arif dan jujur dengan menggunakan media sastra ke khalayak sosial.
4.3 Sistem Pertandaan Roland Barthes
Bertolak dari prinsip-prinsip Saussure, Barthes menggunakan konsep sintagmatik dan paradigmatik untuk menjelaskan gejala budaya, seperti sistem busana, menu makan, arsitektur, lukisan, film, iklan, dan karya sastra. Ia memandang semua itu sebagai suatu bahasa yang memiliki sistem relasi dan oposisi. Beberapa kreasi Barthes yang merupakan warisannya untuk du-nia intelektual adalah
1. Konsep konotasi yang merupakan kunci semiotik dalam menganalisis budaya
2. Konsep mitos yang merupakan hasil penerapan konotasi dalam berbagai bidang dalam kehidupan sehari-hari.
Denotasi merupakan makna yang objektif dan tetap; sedangkan konotasi sebagai makna yang subjektif dan bervariasi. Meskipun berbeda, kedua makna tersebut ditentukan oleh konteks. Makna yang pertama, makna denotatif, berkaitan dengan sosok acuan, misalnya kata putih bermakna „warna seperti warna suci‟ (secara lebih objektif, makna dapat di-gambarkan menurut tata sinar). Konteks dalam hal ini untuk memecahkan masalah poli-semi; sedangkan pada makna konotatif, konteks mendukung munculnya makna yang subjektif. Konotasi membuka kemungkinan interpretasi yang luas. Dalam bahasa, konotasi dimunculkan melalui: majas (metafora, metonimi, hiperbola, eufemisme, ironi, dsb), presuposisi, implikatur. Secara umum (bukan bahasa), konotasi berkaitan dengan penga- laman pribadi atau masyarakat penuturnya yang bereaksi dan memberi makna konotasi emotif misalnya halus, kasar/tidak sopan, peyoratif, akrab, kanak-kanak, menyenangkan, menakutkan, bahaya, tenang, dsb. Jenis ini tidak terbatas.
4.3.1 Bait Tahun Baru Puisi Gus Mus
Tahun Baru
Selamat Tahun Baru Kawan
Kawan! Sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk? Memandang diri sendiri?
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabnya?
Kawan! Siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah? Mukminin? Muttaqin? Khalifah Allah? Ummat Muhamadkah kita?
Khaira ummatin kah kita? Atau kita sama saja dengan makhluk lain?
Atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan,
lebih pipih dari kain rok perempuan.
Betapapun tersiksa, kita khusyu’ di depan massa dan tiba-tiba buas dan binal justru
saat di saat sendiri bersamaNya.
Syahadat kita rasanya seperti perut bedug
Atau pernyataan setia pegawai rendah saja, kosong tak berdaya.
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu, lebih cepat daripada menghirup
kopi panas, dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius kita memohon hidup enak di dunia dan
bahagia di surga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat
Ketika dating lapar atau haus, kitapun manggut-manggut
“Ooh beginikah rasanya” dan kita sudah merasa memikirkan sodara-sodara kita yang
melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa
Dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya
berlipat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya, menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan
matrial.
Membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci asli made in
Saudi … Haji…
Kawan, lalu bagaimana, bilamana, dan berapa lama kita bersamaNya?
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifahNya
Kawan, tak terasa kita memang semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita
Paling tidak kita semakin pintar berdalih
Kita perkosa alam dan lingkungan, demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata, demi semua yang baik halallah semua sampai yang tidak baik
Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman?
Para mubaligh dan kiai, penyambung lidah nabi?
Jangan ganggu mereka
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para muballigh sedang sibuk berteriak kemana-mana
Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi persoalan mereka sendiri
Kawan selamat tahun baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Memandang diri sendiri.
Dengan memperhatikan teks di atas, terdapat banyak unsur metafora dan afroisme mengisi bait tersebut. Makna denotasi dan konotasi saling berhubungan dan membentuk stuktur makna. Hal ini dapat kita lihat pada keterangan di bawah ini:
Selamat Tahun Baru Kawan
Kawan sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan,sebelum kita dihisabNya
Denotasi : di sini di jelaskan, kita bersama-sama memasuki tahun baru. Penulis bertanya kepada pembaca, waktu tersebut apakah tepat untuk menunduk sejenak, melihat diri sendiri.
Konotasi: tahun baru telah hadir kembali. Sekaranglah saat yang tepat untuk berintrospeksi dengan menggunakan ayat-ayat suci tuhan sebagai panduan untuk evaluasi diri.
Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah,mukminin,muttaqin,
kholifah Alloh,umat Muhammadkah kita?
Khoirul ummatinkah kita?
Denotasi: penulis bertanya kepada pembaca tentang identitas penulis dan pembaca secara definitif.
Konotasi: penulis menanyakan identitas penulis dan pembaca. Apakah termasuk didalam kelompok yang baik dan benar? Apakah mereka termasuk kelompok yang mampu memegang amanah yang diberikanTuhannya dalam memakmurkan bumi?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi.
Hanya budak perut dan kelamin
Denotasi: masih berhubungan dengan pertamyaan sebelumnya, penulis menanyakan ulang, apakah mereka sama dengan makluk lain (selain manusia)
Konotasi: penulis menanyakan ulang kepada pembaca, apakah mereka sama dengan hewan secara derajat kemanusiaan atau bahkan lebih rendah dari hewan. Yang dimaksud lebih rendah dari hewan adalah para penyembah perut (yang berarti materialistik: paham yang menganggap benda material adalah sumber kebahagiaan) atau para penyembah kelamin (yang berarti selalu mengikuti kemauan syahwat, yang berkeyakinan kepuasan seksual yang dianggap sebagai kepuasan terbaik dari fasilitas duniawi adalah segalanya)
Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan Lebih pipih dari kain rok perempuan
Denotasi: iman mereka kepada tuhannya sangat lemah. Lebih tipis dari uang adalah ungkapan metafora dari kondisi iman yang lemah.
Konotasi: keyakinan mereka kepada hal yang tak terlihat secara fisik (ghoib) lebih lemah dibandingkan dengan keyakinan terhadap uang dan perempuan yang lebih menarik perhatian mereka.
Betapapun tersiksa ,kita khusyuk didepan masa
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersamaNya
Denotasi: meskipun merasa tersiksa, tapi merasa nyaman dan tenang ketika beribadah sendiri dalam waktu , dan merasakan kekhusyuan yang luar biasa.
Konotasi: perasaan tersiksa karena kekhusyuan dan merasa binal disaat meyakini terhadap Tuhan sendirian.
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
Kosong tak berdaya.
Denotasi: merasa bahwasanya apa yang telah dilafalkan tidak ubahnya lebih buruk dari kata – kata lain yang pernah ada, tidak lebih dari ucapan yang lebih buruk sebelumnya.
Konotasi: keyakinan mereka tentang syahadat yang diucapkan tidaklah lebih dari buruknya bunyi bedug, atau pernyataan dari pegawai rendahan saja yang setia terhadap ucapannya.
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
Denotasi: menjelaskan bahwasanya ibadah yang kita kerjakan itu tidak lebih baik dari apa yang biasanya kita kerjakan sehari – hari, apa yang biasanya dilakukan oleh orang banyak orang karena ketidakhusyuan dalam beribadah tersebut.
Konotasi: merasakan bahwa shalat yang djalankan sebagai proses dari beribadah itu sendiri tidak lebih baik dari senam ibu ibu merasakan bahwa lebih cepat daripad menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius Memohon enak hidup didunia dan bahagia disurga.
Denotasi: apa yang sudah dikerjakan dalam beribadah hanya terfokus pada permohonan kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelat, bukan pada prosesnya dalam beribadah, tapi focus terhadap permohonan kepada Tuhan.
Konotasi: merasakan bahwa doa itu lebih penting dan lebih serius untuk memohon agar hidup enak di dunia dan bahagia di surge kelak.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat
istirahat,tanpa menggeser acara buat syahwat,ketika datang rasa lapar atau haus,
Denotasi: bentuk ibadah yang lain, yaitu puasa tidak lebih dari sekedar memindahkan waktu saja, tanpa memikirkan hal – hal lain yang berpengaruh terhadap esensi dari puasa itu sendiri, hanya menahan hawa lapar dan haus saja untuk beberapa saat, tanpa memperhatikan aktivitas lain yang mengundang syahwat.
Konotasi: puasa yang dikerjakan itu hanya mengubah jadwal makan dan minum saja, tidak memperdulikan acara syahwat yang tetap dikerjakan ketika rasa haus dan lapar melanda.
Kita manggut manggut ..oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.
Denotasi: ketika merasakan suatu hal yang baru dirasakan, barulah sadar akan betapa beruntungnya kita dibandingkan dengan saudara – saudara kita yang kurang beruntung nasibnya dan hanya bisa memikirkannya
Konotasi: manggut manggut bahwa merasa sudah memikirkan nasib saudara kita yang melarat dan merasakan hal itu.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia sia,
Denotasi: untuk melakukan kebaikan (zakat), serasa berat untuk menunaikannya jika dibandingkan dengan hal lain yang lebih buruk adanya.
Konotasi: zakat yang dilakukan oleh kita lebih berat daripada kupon undian yang dilepas oleh tukang becak dan itu hanya sia –sia.
Kalaupun terkeluarkan,harapanpun tanpa ukuran Upaya upaya Tuhan menggantinya lipat ganda.
Denotasi: jikalau Tuhan mengabulkan, kita hanya bisa berharap bahwa Tuhan dapat mengganti apa yang kita keluarkan secara berlipat ganda
Konotasi: upayanya adalah berharap agar Tuhan menggantinya dengan lpat ganda atas apa yang dikeluarkan.
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri,mencari pengalaman spiritual dan material,membuang uang kecil dan dosa besar
Lalu pulang membawa label suci Asli made in saudi "HAJI"
Denotasi: iman yang selanjutnya adalah menunaikan haji yang tidak lebih hanya membuang buang materi saja dan hanya sekedar tamasya untuk diri pribadi,dengan harapan dengan sedikit uang yang kita keluarkan , maka akan terhapus segala dosa – dosa besar yang telah kita perbuat sehingga pulang dari tanah suci dengan gelar “HAJI”
Konotasi: haji tak ubahnya hanya bertamasya, hanya mencari pengalaman saja, hanya membuang uang kecil dan membuang dosa besar dan pulang dengan membawa label suci.
Kawan lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersamaNya,
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,
mensiasati dunia khalifahnya,
Denotasi:disini dijelaskan bahwa berapa lama dan bagaimana iman kita terhadap Tuhan, lantas kenapa kita hanya sibuk untuk tugas yang kita kerjakan dan bersiasat di dunia
Konotasi: bagaimana dan seberapa lama kita bersamaNya ataukah kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya, dan mensiasati dunia khalifahnya
Kawan tak terasa kita semakin pintar,mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih,
Denotasi: disini dijelaskan bahwa sesungguhnya apa yang menjadikan kedudukan kita sekarang, hanyalah suatu proses pendewasaan dan kematangan dalam berfikir, yang semakin membuat kita pintar untuk mengelak dan berdalh atas apa yang terjadi saat ini
Konotasi: kedudukan sebagai khalifah di muka bumi hanya mempercepat proses kematangan dalam berfikir, secepat itu pula dan sepintar itu kita berdalih
kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan,
kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan,
memukul,mencaci demi pendidikan,
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Denotasi: disini dijelaskan bahwa apa yang kita lakukan semata – mata hanya untuk kebebasan yang kita inginkan, dengan hal perusakan alam yang semata mata demi ilmu pengetahuan, berbuat semaunya atas nama kemerdekaan, semua rasanya menjadi halal untuk dilakukan atas nama kebebasan
Konotasi: perbuatan yang dilakukan semaunya, seenaknya demi kemerdekaan, memukul, berkelahi demi menegakkan kebenaran, mengacau dan menipu demi keselamatan, semua upaya dilakukan demi kebenaran, kemerdekaan.
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian Pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.
Denotasi: diam, apatis, dan membiarkan kemungkaran terjadi, seolah olah menjadi hal yang biasa untuk dilakukan atas nama perdamaian, apapun biasa menjadi halal adanya untuk urusan perdamaian itu, bahkan yang tidak baik pun menjadi halal adanya.
Konotasi: membiarkan kemungkaran itu adam untuk semua hal agar damai, dari yang tidak baik menjadi halal, bahkan tidak berbuat apa apa demi ketentraman, halallah adanya utnuk dilakukan.
Lalu bagaimana para cendekiawan,seniman,mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah nabi.
Jangan ganggu mereka
Denotasi: disini penulis bertanya tentang cara orang orang yang berpengaruh dalam kehidupan manusia sebagai penerus dari ajaran nabi, dan ditegaskan dengan jelas bahwa utnuk jangan mengganggu mereka.
Konotasi: penulis bertanya bagaimana para cendikiawam,seniman, mubaligh,dan kiai sebagai penyambung lidah nabi, dan jawabannya adalah jangan ganggu mereka.
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana mana
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Denotasi: disini penulis menjelaskan mengenai peran dari masing – masing orang yang berpengaruh tadi, sejauh mana mereka berpengaruh di dunia ini, dan apa dampaknya bagi semuanya, tapi tetaplah pemimpin yang mengatur semuanya, sehingga peran yang lan seolah – olah tidak ada artinya
Konotasi: menjelaskan bahwa cendekiwanalah yang memikirkan segalanya, seniman yang merenungkan apa saja, mubaligh yang sibuk berteriak kemana kemana dan kiai yang hanya sibuk berfatwa dan berdoa, dan ujungnya pemimpinlah yang mengatur semuanya.
Biarkan mereka diatas sana
menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri
Denotasi:disini penulis menjelaskan bahwa biarkanlah para mereka yang diatas (cendikiawan, seniman, mubaligh,kiai, dan pemimpin) yang sibuk dengan urusan mereka sendiri dan meratapi persoalan mereka sendiri.
Konotasi: biarkan mereka menikmati dan meratapi nasib mereka dan persoalan mereka sendiri atas apa yang mereka laukan masing – masing.
Kawan, selamat tahun baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Denotasi: disini penulis menegaskan dan menjelaskan bahwa kita bersama –sama memasuki tahun baru. Dan apakah waktu tersebut tepat untuk menunduk sejenak, melihat diri sendiri.
Konotasi: tahun baru telah hadir kembali, dan inilah saatnya untuk menunduk dan memandang diri sendiri.
4.4 Mitologi dalam bait Tahun Baru.
Ketika menganalisis karya sastra, akan menjadi jelas bahwa tanda linguistik, visual dan jenis tanda lain mengenai bagaimana karya sastra itu direpresentasikan tidaklah sesederhana mendenotasikan sesuatu hal, tetapi juga menciptakan tingkat konotasi yang dilampirkan pada tanda. Barthes menyebut fenomena ini – membawa tanda dan konotasinya untuk membagi pesan tertentu– sebagai penciptaan mitos. Pengertian mitos di sini tidaklah menunjuk pada mitologi dalam pengertian sehari-hari –seperti halnya cerita-cerita tradisional– melainkan sebuah cara pemaknaan. Pada dasarnya semua hal dapat menjadi mitos; satu mitos timbul untuk sementara waktu dan tenggelam untuk waktu yang lain karena digantikan oleh pelbagai mitos lain. Mitos menjadi pegangan atas tanda-tanda yang hadir dan menciptakan fungsinya sebagai penanda pada tingkatan yang lain.
Mitos menjadi penanda untuk memainkan pesan-pesan tertentu yang boleh jadi berbeda sama sekali dengan makna asalnya. Kendati demikian, kandungan makna mitologis tidaklah dinilai sebagai sesuatu yang salah (‘mitos’ diperlawankan dengan ‘kebenaran’) cukuplah dikatakan bahwa praktik penandaan seringkali memproduksi mitos. Produksi mitos dalam teks membantu pembaca untuk menggambarkan situasi sosial budaya, mungkin juga politik yang ada disekelilingnya. Bagaimanapun mitos juga mempunyai dimensi tambahan yang disebut naturalisasi. Melaluinya sistem makna menjadi masuk akal dan diterima apa adanya pada suatu masa, dan mungkin tidak untuk masa yang lain.
Pemikiran Barthes tentang mitos nampaknya masih melanjutkan apa yang diandaikan Saussure tentang hubungan bahasa dan makna atau antara penanda dan petanda. Tetapi yang dilakukan Barthes sesungguhnya melampaui apa yang lakukan Saussure. Bagi Barthes, mitos bermain pada wilayah pertandaan tingkat kedua atau pada tingkat konotasi bahasa. Jika Sauusure mengatakan bahwa makna adalah apa yang didenotasikan oleh tanda, Barthes menambah pengertian ini menjadi makna pada tingkat konotasi. Konotasi bagi Barthes justru mendenotasikan sesuatu hal yang ia nyatakan sebagai mitos, dan mitos ini mempunyai konotasi terhadap ideologi tertentu.
Tanda konotatif tidak hanya memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Tambahan ini merupakan sumbangan Barthes yang amat berharga atas penyempurnaannya terhadap semiologi Sausure, yang hanya berhenti pada penandaan pada lapis pertama atau pada tataran denotatif semata. Dengan membuka wilayah pemaknaan konotatif ini, ‘pembaca’ teks dapat memahami penggunaan gaya bahasa kiasan dan metafora yang itu tidak mungkin dapat dilakukan pada level denotatif. Lebih dari itu, di samping gagasannya dapat dimanfaatkan untuk menganalisis media, semiotika konotasi ala Barthesian ini memungkinkan penggunaannya untuk wilayah-wilayah lain seperti pembacaan terhadap karya sastra dan fenomena budaya kontemporer atau budaya pop. Sedangkan untuk petanda konotasi, karakternya umum, global dan tersebar sekaligus menghasilkan fragmen ideologis. Berbagai petanda ini memiliki suatu komunikasi yang amat dekat dengan budaya, pengetahuan, sejarah, dan melalui merekalah, demikian dikatakan, dunia yang melingkunginya menginvasi sistem tersebut.
Kita dapat katakan bahwa ideologi adalah suatu form penanda-penanda konotasi, sementara gaya bahasa, majas atau metafora adalah elemen bentuk (form) dari konotator-konotator. Singkatnya, konotasi merupakan aspek bentuk dari tanda, sedangkan mitos adalah muatannya. Penggunaan tanda satu persatu dapat mengurangi kecenderungan “anarkis” penciptaan makna yang tak berkesudahan, di sisi lain, namun keanekaragaman budaya dan perubahan terus-menerus membentuk wilayah petanda konotatif yang bersifat global dan tersebar. Ideologi, secara semiotis adalah penggunaan makna-makna konotasi tersebut di masyarakat alias makna pada makna tingkat ketiga. Beroperasinya ideologi melalui semiotika mitos ini dapat ditemukan melalui asosiasi yang melekat dalam bahasa konotatif.
Barthes mengatakan penggunaan konotasi dalam teks ini sebagai: penciptaan mitos. Ada banyak mitos yang diciptakan media di sekitar kita, misalnya mitos tentang kecantikan, kejantanan, pembagian peran domestik versus peran publik dan banyak lagi. Mitos ini bermain dalam tingkat bahasa yang oleh Barthes disebutnya ‘adibahasa’ (meta-language). Penanda konotatif menyodorkan makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Dibukanya medan pemaknaan konotatif ini memungkinkan pembaca memakanai bahasa metafor atau majazi yang makanya hanya dapat dipahami pada tataran konotatif. Dalam mitos, hubungan antara penanda dan petanda terjadi secara termotivasi. Pada level denotasi, sebuah penanda tidak menampilkan makna (petanda) yang termotivasi.
Motivasi makna justru berlangsung pada level konotasi.Barthes menyatakan bahwa mitos merupakan sistem komunikasi juga, karena mitos ini toh merupakan sebuah pesan juga. Ia menyatakan mitos sebagai “modus pertandaan, sebuah bentuk, sebuah “tipe wicara” yang dibawa melalui wacana. Mitos tidaklah dapat digambarkan melalui obyek pesannya, melainkan melalui cara pesan tersebut disampaikan. Apapun dapat menjadi mitos, tergantung dari caranya ditekstualisasikan. Dalam narasi berita, pembaca dapat memaknai mitos ini melalui konotasi yang dimainkan oleh narasi. Pembaca yang jeli dapat menemukan adanya asosiasi-asosiasi terhadap ‘apa’ dan ‘siapa’ yang sedang dibicarakan sehingga terjadi pelipatgandaan makna. Penanda bahasa konotatif membantu untuk menyodorkan makna baru yang melampaui makna asalnya atau dari makna denotasinya.
Teori Barthes tentang mitos/ideologi memungkinkan seoarng pembaca atau analis untuk mengkaji ideologi secara sinkronik maupun diakronik. Secara sinkronik, makna terantuk pada suatu titik sejarah dan seolah berhenti di situ, oleh karenanya penggalian pola-pola tersembunyi yang menyertai teks menjadi lebih mungkin dilakukan. Pola tersembunyi ini boleh jadi berupa pola oposisi, atau semacam skema pikir pelaku bahasa dalam representasi. Sementara secara diakronik analisis Barthes memungkinkan untuk melihat kapan, di mana dan dalam lingkungan apa sebuah sistem mitis digunakan. Berikut analisis semiotika dengan perspektif mitologi Roland Barthes dalam bait puisi Tahun Baru:
Tahun Baru
Tahun baru adalah identik dari awal perjalanan, awal agenda, langkah pertama yang menentukan langkah-langkah berikutnya. Tahun baru juga sering disebut moment perayaan, moment merayakan prestasi sejarah tahun yang lalu sekaligus menyambut datangnya babak baru dalam satu tahun kedepan.
Kawan sudah tahun baru lagi
Kawan merupakan panggilan akrab dari seseorang kepada temannya. Kedekatan hubungan ini mempunyai ikatan batin untuk saling berbagi. Sapaan diatas adalah simbol interaksi sederhana dari dua orang yang berteman.
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin dan menunduk¸keduanya mempunyai kedekatan makna. Sebuah simbol dari interaksi komunikasi interpersonal. Interaksi dan berbicara kepada diri sendiri. Berfungsi sebagai menegaskan identitas dan mengevaluasi diri.
Bercermin firman Tuhan,sebelum kita dihisabNya
Dengan ayat-ayat tuhan sebagai cerminan dan petunjuk dalam berkehidupan. Kalimat di atas mempunyai makna yang religius karena mengandung kepercayaan akan eskatologis (kehidupan setelah kematiaan).
Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Kesejatian diri manusia hendak dipertanyakan oleh penulis. Dengan melihat bait sebelumnya, penulis hendak meragukan nilai derajat mereka sebagai manusia.
Muslimkah,mukminin,muttaqin,
Meskipun ketiga kategori ini mempunyai definisi yang berbeda, subtansi dari ketiga istilah tersebut adalah sama. Sama-sama di dalam kategori manusia yang benar-benar baik dan bermanfaat bagi lingkungannya.
Kholifah Alloh,umat Muhammadkah kita?
Kholifah adalah bahasa serapan dari bahasa arab, yang secara literal mempunyai arti “pengganti”. Pengikut muhammad mempunyai makna pengikut yang menjadikan ajaran-ajaran muhammad sebagai panduan hidup. Kedua kategori ini diyakini kategori manusia yang unggul, yang mampu membawa maslahat baik bagi sesama maupun lingkungannya.
Khoirul ummatinkah kita?
Serapan dari bahasa arab yang berarti sebaik-baik umat. Kategori ini mempunyai hubungan dengan kategori sebelumnya, yaitu kelompok orang-orang selamat karena mereka mempunyai nilai dan prinsip yang mereka pegang teguh.
Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi.
Lebih rendah dari makhluk lain, mempunyai arti manusia lebih hina dari pada hewan jika ia menyembah syahwat dan kehilangan nilai-nilai ketuhanan yang seharusnya menjadi prinsip hidup.
Hanya budak perut dan kelamin
Budak adalah penyembah dan mengabdikan diri. Mitos dalam “budak perut dan kelamin” merupakan pengertian dari manusia yang mengagungkan dan menjadikan kepuasan materi dan kepuasan syahwat sebagai tujuan yang ingin ia capai.
Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan Lebih pipih dari kain rok perempuan
a. Tipisnya kertas ribuan, kiasan dari tingkat keimanan yang rendah. Ribuan, nominal uang kecil. Uang kecil adalah sesuatu yang tidak dianggap bernilai walaupun itu adalah uang.
b. Kain rok perempuan, kiasan dari penutup aurat perempuan. Aurat melambangkan hal yang tabu untuk ditampilkan dan bernilai privasi yang dijaga oleh adat sosial. Dalam budaya patrelinial perempuan diartikan sebagai simbol makhluk penggoda dan perayu untuk mengajak manusia dalam bermaksiat.
Kedua kiasan di atas berusaha menampilkan kondisi selemah-lemahnya iman dan keyakinan agama yang rapuh.
Betapapun tersiksa ,kita khusyuk didepan masa
Tersiksa adalah kondisi yang menyakitkan dan merugikan. Tersiksa karena terlalu menjaga citra dan penampilan demi merawat nama baik di mata masyarakat. Contoh seorang manusia yang rela menyakiti diri demi melindungi gengsi di depan orang lain.
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersamaNya
Buas dan binal merupakan padanan kata yang mengindikasikan kondisi yang melampaui batas dan melabrak batas-batas terlarang. Ketika dalam keadaan sendirian, manusia -yang dicontohkan Gus Mus dalam puisinya¬- berbuat sewenang-wenangnya sendiri sesuai kehendaknya. Ia lupa bahwa ketika dalam keadaan sendiri, tuhan pun menyaksikan. Ini petanda keimanan yang rusak.
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
Kosong tak berdaya.
Syahadat, rukun pertama dalam islam untuk menjadi muslim. Berupa pernyataan, bernilai penting dan utama. Pernyataan pegawai rendahan, cenderung bernilai pragmatis, instan, menjilat, palsu dan dibuat-buat. Hubungan antara syahadat dan pernyataan pegawai rendahan menjelaskan shahadat yang kehilangan nilai karena tidak berasal dari hati dan hanya untuk berpura-pura.
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
a. Shalat adalah gerakan ritual dalam islam. Senam ibu-ibu adalah bentuk olahraga ringan yang dilakukan oleh ibu-ibu untuk menjaga kesehatan sekaligus sekedar untuk berinteraksi sesamanya.
b. Cepat menhirup kopi panas. Kopi panas perlu dihirup dengan cepat agar bisa dinikmati dengan tingkat panas tertentu.
c. Pemuda cenderung suka melamun, berkhayal tinggi-tinggi dan berimajinasi tanpa batas. Ramainya lamunan 1000 pemuda memiliki arti lamunan yang sangat ramai karena jumlahnya sangat banyak.
Artinya shalat yang dilakukan tidak lebih dari sebuah gerakan kosong yang tidak berfaedah karena tidak khusyu’ dan hanya mengejar gerakan sholat dengan cepat bukan ruh/energi positif yang membekas dalam sholat.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius Memohon enak hidup didunia dan bahagia disurga.
Disini yang dimaksud adalah do’a sholat karena masih berhubungan dengan lirik sebelumnya. Manusia –yang dicontohkan oleh Gus Mus dalam puisinya- lebih menyukai doa yang berefek instan, memohon kenikmatan material dan terjaga rasa senangnya sepanjang masa. Kiasan yang memiliki arti bahwa manusia di sini mempunyai ego yang besar dan berharap egonya dapat terpuaskan karena doa yang dipanjatkannya.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat,tanpa menggeser acara buat syahwat,, ,ketika datang rasa lapar atau haus,
Puasa menjadi kehilangan energi spritualitas, ketika yang dilakukan hanyalah mengganti jadwal makan. Puasa tidak sekedar menahan lapar, akan tetapi menahan ego dan syahwat. Mereka mengira rasa lapar dan haus telah menjadi ukuran puasa atau tidak, padahal puasa menekankan pentingnya pengendalian diri lewat ritual puasa.
Kita manggut manggut ..oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.
Melanjutkan dengan bait puisi sebelumnya, ukuran puasa mereka nilai dari suasana lapar yang mereka rasakan. Mereka mengira dengan berpuasa mereka telah berempati oleh kaum melarat yang sering merasakan lapar.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia sia,
Tukang becak mempunyai penghasilan yang terbatas dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kupon undian adalah sejenis judi yang menggunakan uang sebagai taruhannya. Sia-sia untuk bermain judi seperti ini karena kemungkinan untuk menang dalam kupon undian ini sangat kecil. Walaupun demikian, menyisihkan uang yang terbatas itu untuk mengadu nasib dengan undian lebih ringan daripada menyiapkan uang untuk memberi zakat. Efek sosial dari fungsi zakat belum dipahami sehingga mereka lebih tertarik dengan rasa penasaran mereka akan keberuntungan pada undian.
Kalaupun terkeluarkan,harapanpun tanpa ukuran. Upaya upaya Tuhan menggantinya lipat ganda.
Menyambung dengan bait sebelumnya, jika memenangkan undianpun, keuntungan mereka tidak seberapa dan tidak dapat dibandingkan dengan keuntungan rizki yang diberkahi oleh tuhan karena mereka telah mengeluarkan zakat sebagai bentuk kewajiban sosial.
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri,mencari pengalaman spiritual dan material,membuang uang kecil dan dosa besar
Tamasya adalah rangkaian kegiatan rekreasi yang berguuna utuk melepas penat sekaligus menyegarkan diri. Haji adalah ibadah penyempurna dalam rukun islam. Masyarakat kita cenderung menganggap haji adalah wisata luar negeri yang menyimpan pengalaman material seperti: berbelanja. Apalagi ketika haji dinilai adalah sejenis kegiatan yang bisa memberikan credit point yang bisa menghapus dosa-dosa masa lalu. Inilah salah satu pandangan materialistik dalam beribadah, ibadah diyakini mempunai nilai tukar terhadap dosa-dosa personal sehingga ketika beribadah mereka berpikir sedang berbelanja pahala dengan tuhan. Mereka lupa bahwa ibadah merupakan bentuk penyucian jiwa bukan kalkulasi matematis tentang pahala dan dosa.
Lalu pulang membawa label suci Asli made in saudi "HAJI"
Penggunaan gelar “haji” diperoleh setelah beribadah haji hanya dikenal di masyrakat Indonesia saja. Makna gelar haji ini sebenarnya paradoks. Peribadatan haji adalah peribadatan personal namun setelah selesai melakukannya ia mendapatkan gelar sosial. Hal ini terbangun demikina karena budaya sosial telah membentuknya. Masalahnya gelar ini mempunyai nilai prestise/gengsi yang tinggi. Melambangkan haji adalah ibadah yang mahal dan mewah, hanya orang-orang yang berkelimpahanlah yang mampu bisa menjalankannya. Gelar haji membuat pemakainya naik status sosial dalam pandangan masyarakat. Masyarakat segan dan hormat dengan pengguna gelar “haji” karena haji mereka yakini bisa menaikkan parameter kesholehan. Ini adalah contoh kesalahan berpikir dalam masyrakat kita.
Kawan lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersamaNya,
BersamaNya disini memiliki makna berdua dengan tuhan. Berdua dengan tuhan adalah menunjukkan kondisi yang dekat dengan tuhan. Kondisi ini bisa kita dapatkan dengan beribadah khusyu’ dan berniat. Penulis bertanya kepada pembaca seakan lupa tentang cara benar beribadah tulus dengan tuhan. Seakan lupa karena sudah mengkontruksi dalam budaya dan pemikiran masyarakat kita bahwa ibadah adalah mengejar gerakan ibadah hanya gerakan fisik bukan pergerakan batin yang mampu membekas dan benar-benar merubah kita lebih baik.
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,
mensiasati dunia sebagai khalifahnya,
Sibuk mengatur bumi mempunyai makna sibuk dengan hal-hal keduniaan. Sibuk dengan perkara-perkara material sehingga lupa atau kehabisan waktu untuk menghidupkan hati dengan memikirkan hal-hal ukhrowi (yang bernilai hubungan vertikal dengan tuhan). Kesibukan duniawi ini seakan-akan hal utama dan satu-satunya kesibukan yang mendapatkan manfaat yang dapat dirasakan langsung. Mereka lupa bahwa jiwalah yang menggerakan kesibukan. Ketika jiwa hanya terisi dengan kesibukan yang bernilai material saja maka jiwa akan kehilangan cahayanya. Karena cahaya jiwa bersumber pada hubungan yang melibatkan tuhan dan manusia dalam satu komunikasi yang biasa kita sebut dengan ibadah atau hal-hal yang bersifat ukhrowi.
Kawan tak terasa kita semakin pintar,mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih,
Kedudukan sebagai pengemban amanah khalifah yang ditugaskan untuk memakmurkan bumi ini membuat manusia semakin pintar. Penulis bertanya apakah manusia benar-benar pintar atau hanya pintar menyembunyikan kebodohan. Makna pintar tidak hanya bermuatan positif, makna pintar juga dapat bermuatan negatif seperti pintar menipu dan pintar berbuat curang. Menjadi pintar karena melewati proses kematangan menjadi manusia diragukan oleh penulis. Apakah kematangan ini ke arah yang lebih baik atau kematangan perbuatan jahat.
kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan,
atas nama ilmu dan pengetahuan, kita eksplorasi alam kita meniliti lingkungan. Namun penulis menyangsikan apakah dalam penelitian ini mempunyai batas-batas moral yang dijadikan prinsip ilmu pengetahuan. Batasan tersebut sangat penting untuk menjaga dan melestarikan bumi. Bukan karena terobsesi dengan ilmu pengetahuan maka alam diletakan sebagai objek yang pasif dan bebas untuk dibongkar pasang. Walaupun alam tidak bergerak seperti manusia namun memiliki peran aktif dalam menjaga keharmonisan ekosistem bumi. Kita meneliti alam sekaligus menghormati keberadaanya sebagai satu kesatuan penopang kehidupan manusia dengan memiliki kode moral dalam ilmu pengetahuan.
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan,
Atas nama kebenaran, cara-cara yang tidak benar disahkan dan dianggap benar. Cara-cara yang salah dilegalkan dan ditempuh untuk mengejar sesuatu yang diyakini benar. Ini adalah sebuah paradoks. Kesadaran dalam memahami subtansi kebenaran berefek pada proses dalam menemukan kebenaran. Ambisi untuk meraih hasil yang baik telah membutakan mata dalam memahami hakikat sebuah proses yang membutuhkan kesabaran. Cara-cara yang yang dilakukan tanpa mengabaikan prinsip dapat membuat hasil tercapai dengan instan namun bersifat sementara dan kehilangan nilai-nilai intrinsik yang terkandung didalamnya.
Memukul,mencaci demi pendidikan,
Tujuan pendidikan adalah membangun karakter dan watak. Mencaci dan pendidikan adalah hal yang kontras dan berlawanan. Perbuatan mencaci sendiri menyimbolkan perbuatan yang tidak mengindahkan norma dan etika sedangkan pendidikan sangat menjunjung tinggi kedudukan etika dalam berperilaku. Secara langsung kedua kata ini bertentangan makna karena mempunyai asas yang bertolak belakang. Alih-alih mendidik untuk menjadi kaum terpelajar, mencaci dalam proses mendidik menunjukan pendidikan untuk menjadi kaum yang gemar melanggar etika dan menyepelekan norma.
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Berbuat semaunya berarti berbuat sesuka hati dan bebas melakukan apapun, baik yang bernilai positif maupun yang bernilai negatif. Kemerdekaan berarti mendapatkan hak asasi sebagai manusia yang dengannya dapat mengoptimalkan potensi-potensi kemanusiaan. Lagi-lagi kedua kata ini bertentangan maknanya. Kemerdekaan seseorang mempunyai batasan sedemikian rupa agar tidak mengambil kemerdekaan orang lain. Sebagai makhluk sosial, batasan-batasan moral sangat dibutuhkan demi memelihara keharmonisan sistem sosial.
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
Tidak berbuat apa-apa dalam konteks ini menyimbolkan sebagai pribadi yang apatis, egois, tidak peduli dengan sesamanya dan individualis. Ketentraman membutuhkan peran bersama dalam menghormati nilai-nilai yang disepakati dan memerlukan partisipasi sosial untuk mewujudkannya. Jika tidak ada partisipasi dari individu maka ketentraman tidak mungkin ada.
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian Pendek kata demi semua yang baik halallah semua sampai hal yang paling tidak baik.
a. Kemungkaran adalah hasil kondisi dari perbuatan yang merusak dan tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Kedamaian adalah hasil akumulasi dari perilaku yang saling menghormati, saling bekerjasama dan memegang teguh prinsip-prinsip kemanusia. Membiarkan kemungkaran terjadi sama saja dengan menghalangi kehadiran kedamaian. Dua hal yang bertentangan baik secara makna maupun esensi. Kedamaian tidak pernah ada selama kemungkaran masih ada, seperti halnya malam tidak pernah datang bersama dengan siang.
b. Hal baik berbeda eksistensi dengan hal yang tidak baik, bahkan secara maknapun bertentangan. Unsur-unsur hal baik diantaranya adalah hal yang bersifat benar, kasih sayang dan selaras. Sedangkan unsur-unsur hal yang tidak baik diantaranya adalah hal yang bersifat salah, kebencian dan berantakan. Tidak akan terjadi hal yang baik jika proses menempuhnya dilakukan dengan hal yang tidak baik. Bait di atas mengindikasikan bahwa mencampurkan obsesi hal baik dengan cara yang tidak baik adalah tanda dari pribadi yang latah dan munafik.
Lalu bagaimana para cendekiawan,seniman,mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah nabi.
Cendikiawan merupakan kelompok manusia yang cemerlang karena pengetahuannya yang luas dan dalam. Karena pengetahuanlah, manusia semakin bijak dan bermanfaat bagi sesamanya. Seniman merupakan kelompok manusia yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan dengan mengaktualisasikan dirinya lewat karya seni dan budaya. Mubaligh adalah orang yang memiliki wawasan keislaman dan wawasan keumatan. Kiai adalah gelar sosial kepada tokoh agama yang dianggap mampu menyelesaikan masalah umat dan sosial karena luasnya ilmu dan hikmah yang ia miliki.
Jangan ganggu mereka
Di sini penulis berusaha membenturkan makna dan peran cendikiawan, seniman, mubaligh dan kiai dengan realitas sosial yang menjadi tugas mereka. Penulis melarang pembaca menuntut manfaat atas eksistensi dan tanggung jawab mereka.
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Berpikir adalah pertanda awal dari hadirnya sebuah ilmu atau hikmah. Berpikir adalah pekerjaan asasi dari seorang cendikiawan. Namun penulis hendak memberi tahu bahwa dengan berpikir saja, masalah sosial tidak pernah terselesaikan.
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Perenungan merupakan sumber inspirasi dari seorang seniman sebelum menciptakan karya seni. Dengan melakukan perenungan, seniman dapat menemukan saripati gagasan yang didapatkan dari banyaknya pengalaman, wawasan dari interaksi sosial yang dibangunnya. Akan tetapi perenungan akan menjadi sia-sia jika tidak dirumuskan dalam sebuah karya seni yang mampu menginspirasi dan menyadarkan masyarakat akan permasalahan-permasalahan kemanusiaan.
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana mana
Mubaligh mempunyai tugas sosial berupa dakwah kepada masyarakat. Mengajak kepada kebaikan dan memberi tahu tentang hal-hal yang buruk untuk dicegah. Penulis menggunakan kata “berteriak kemana-mana” karena kata tersebut mempunyai makna bahwa berbicara di setiap tempat dan waktu adalah yang sering kita dapatkan dari realitas seorang mubaligh, berbicara adalah kegiatan yang mudah dilakukan namun menuntut tanggung jawab atas apa yang dibicarakannya. Di sini penulis menggugat peran mubaligh yang tidak mampu berbuat banyak selain berbicara di setiap waktu dan di setiap tempat.
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
Kiai adalah gelar yang terhormat dalam sistem sosial di masyarakat kita. Mereka mempunyai tempat khusus di mata masyarakat, karenanya apa yang mereka bicarakan dipercayai oleh umat. “Sibuk berfatwa dan berdoa” adalah diksi yang tepat untuk melukiskan kondisi kiai yang tidak mampu mengemban amanah dan kepercayaan masyarakat atas gelar sosial yang diberikan kepada mereka. Hanya fatwa dan doa yang mereka lakukan dalam menyikapi masalah sosial. Menjadi teladan umat adalah subtansi dari kehadiran seorang kiai. Bukan kegiatan doa dan menetapkan fatwa yang umat perlukan sekarang namun keteladanan figur dan insiatif ide-ide konkret merekalah yang masyarakat butuhkan dalam menyikapi masalah sosial.
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Mengatur adalah pekerjaan seorang pemimpin, kemampuan mengatur atas apa yang diamanahkan kepadanya adalah hal yang penting dalam menyelesaikan masalah dan membangun kondisi yang lebih baik. Tidak sampai membangun kondisi yang lebih baik, menyelesaikan masalah belum dapat dilakukan oleh seorang pemimpin –yang digambarkan oleh Gus Mus dalam puisinya-. Penulis menegaskan bahwa pemimpin sekarang terlalu sibuk mengatur apapun, bukan terlalu sibuk memimpin dan tegas mengarahkan kondisi –atas apa yang dipimpin- ke arah yang lebih baik.
Biarkan mereka diatas sana
Penulis hendak mendekontruksi makna dari gelar-gelar sosial di atas. Makna cendekiawan,seniman,mubaligh dan kiai dipertanyakan subtansi mereka dan diserang eksistensi mereka. Mereka yang bergelar tersebut digugat pertanggung jawabannya atas sikap pribadi ketika berhadapan dengan realitas sosial yang seakan-akan mendekati kehancuran. “Diatas sana” menunjukan adanya jarak antara mereka yang bergelar dengan kondisi sosial. Mereka berada di alam ide-ide yang tinggi, dimana masyarakat tidak memahami apa yang mereka bicarakan dan mereka lakukan. Jarak vertikal ini membuat mereka yang bergelar seperti kelompok autis yang tidak dapat berinteraksi dengan bahasa dan perilaku yang mudah dipahami oleh masyarakat.
menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri
Melanjutkan bait sebelumnya, mereka yang bergelar ¬-digambarkan oleh Gus Mus dalam puisi ini- sedang meratapi nasib dan terpisah dengan kelompok-kelompok sosial yang lain. Terpisah di sini berarti berbeda tempat dan tujuan. Padahal mereka jelas-jelas dalam satu tempat, di dalam realitas yang sama dan satu tujuan, mengarahkan ke kondisi yang lebih baik. “meratapi nasib” adalah kata yang menggambarkan bentuk penyesalan yang sangat atas apa yang menjadi keadaannya. Meratapi adalah perbutan murni emosional yang berlebihan sehingga tidak ada ruang untuk usaha intelektual/spiritual menangani problem tersebut. Meratapi merupakan bentuk ketidakberdayaan (surrender of life) sikap dalam menghadapi persoalan-persoalan. Ini adalah sifat yang bertentangan dengan esensi sifat-sifat cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai, dimana mereka seyogyanya proaktif dalam menangani fenomena-fenomena sosial.
Kawan, selamat tahun baru
Penulis menyebutkan lagi ucapan ini, persis seperti pada bait awal puisi. Repetisi ini bermakna bahwa, pesan-pesan penulis telah disampaikan. Seakan-akan mengingatkan persoalan-persoalan yang menjadi wajah realitas sosial sekarang akan senantiasa hadir kembali dan penulis mengucapkan selamat sebagai bentuk penyambutan atas kehadiran kembali masalah-masalah sosial yang sama di tahun baru.
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Di bait terakhir ini, penulis seakan mengajak pembaca agar melihat diri sendiri sebagai satu kesatuan dari realitas dan mengajak untuk mengevaluasi diri atas apa yang sudah dilakukan di masa lalu dan serta mengingatkan pembaca untuk mencegah diri agar tidak menjadi bagian dari kelompok-kelompok manusia yang mendustai hakikat kemanusiaannya.
4.5 Kode Bahasa Estetik
Puisi Tahun Baru karangan Gus Mus ini menyimpan kode-kode bahasa estetis yang dapat di jadikan acuan analisis semiotika. Struktur tanda dalam puisi Gus Mus berpotensi untuk dikaji secara mendalam dan sistematis dengan pendekatan linguistik, sosiologi, antorpologi, psikologi sosial, komunikasi massa dan kajian budaya (cultural studies). Dengan menggunakan teori Barthes lima kode estetik membantu kita mendapatkan pemahaman yang lebih spesifik tentang pesan-pesan makna dalam puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru.
Teori roland barthes tentang lima kode estetis tersebut adalah :
1. Kode hermeneutik adalah kode yang mengandung unit-unit tanda yang secara bersama-sama berfungsi untuk mengartikulasikan dengan berbagai cara dialektik pertanyaan-respon, yang di dalam prosesnya jawaban atau kesimpulan (cerita) ditangguhkan, sehingga menimbulkan semacam enigma. Kode ini berkisar pada harapan pembaca untuk memperoleh “apa yang sejati” dari pertanyaan yang hadir di dalam teks. Di dalam narasi puisi tahun baru ini terdapat suatu kondisi kejanggalan dan penyelesaiannya ikut tertulis dalam bait puisi tersebut.
Puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru menerangkan tentang “kebenaran” wajah sosial yang mengalami degradasi nilai. Nilai ibadah yang masyarakat pahami masih terbatas pada pengertian ibadah secara fisik dan material. Alih-alih ibadah merupakan hasil olah batin dan jiwa yang menghasilkan spiritualitas setelah menjalani ibadah tersebut akan tetapi ibadah dilihat sebagai sebuah kegiatan fisik yang mempunyai target dan sasaran yang terukur secara material. Pemahaman tentang ibadah menjadi tereduksi karena budaya materialistik mengkondisikan pola pikir masyarakat agar memperoleh kenikmatan yang instan bukan penyucian jiwa. Gelar-gelar sosial telah kehilangan makna karena ketiadaan tanggung jawab atas gelar tersebut. Walaupun begitu masyarakat masih berantusias untuk mendapatkan gelar tersebut demi status sosial.
2. Kode semantik adalah kode yang berada pada kawasan penanda, yakni penanda khusus yang memiliki konotasi. Kode semantik sering disebut sebagai kode konotatif. Kode konotatif ini menawarkan banyak sisi. Konotasi-konotasi yang termuat di dalam puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru, ikut menentukan dalam proses pembacaan dalam menyusun tema teks. Jika kita melihat corak konotasi-konatasi yang berkumpul dan menbentuk satu kesatuan tema di dalam narasi ini, maka kita akan menemukan bahwa Gus Mus menggunakan prinsip kontradiksi dalam menetapkan diksi dan gaya bahasa.
Menghadirkan atribut gelar sosial namun mendekontruksikan maknanya dengan menghadirkan kondisi tertentu yang men-disfungsi-kan makna gelar tersebut adalah cara Gus Mus menggambarkan fenomena masyarakat yang mempunyai prinsip berpikir yang keliru. Konotasi-konotasi yang dipakai Gus Mus juga memiliki unsur fatik dan metaforis. Hal ini untuk mempertegas makna dan memperjelas gambaran utuh tentang adanya pemahaman-pemahaman yang kontradiktif namun dimaklumi dan diyakini oleh masyarakat sebagai pemahaman yang umum dan dominan.
3. Kode simbolik adalah kode yang juga mengatur aspek bawah sadar dari tanda yang merupakan kawasan dari psikoanalisis. Kode ini juga merupakan pengkodean fiksi yang bersifat struktural atau dalam istilah Barthes, pasca struktural. Konsep ini menyandarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari oposisi biner atau deferensiasi baik dalam standar bunyi menjadi fonem dalam produksi wicara, maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses. Dalam teks puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru, perlawanan yang bersifat simbolik seperti yang digambarkan dalam puisi dapat dikodekan melalui istilah-istilah retoris seperti firman tuhan, yang merupakan hal yang istimewa dalam sistem simbol Barthes.
Pemilihan kata dan susunan kalimat dari puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru yang membuat puisi ini kaya akan makna dan sarat akan hikmah. Pertentangan simbol dan ketegasan dalam memilih kata yang mempunyai konotasi keras ikut membuat puisi Gus Mus ini mempunyai nilai bobot yang berbeda. Karakter penulisan puisi Gus Mus yang blak-blakan, menantang, menjungkir-balikan makna namun tetap sederhana ini sehingga mudah dipahami dan mudah disimpulkan oleh semua kalangan pembaca tanpa melihat latar belakang akademis atau bukan. Simbol-simbol yang dianggap tabu seperti kelamin, buas dan binal ini turut mewarnai pengkodean fiksi yang paling khas. Diferensiasi dalam sistem sosial yang tercantum dalam gambaran puisi Gus Mus dan opisisi biner tentang wacana baik dan buruk menjadi kekuatan dan nilai-nilai makna yang berlawanan yang secara mitologis telah terkodekan dengan penggunaan konotasi yang simbolik.
4. Kode proaretik adalah kode yang mengatur alur satu cerita atau narasi. Ia disebut juga kode aksi/ tindakan/ lakuan. Kode ini dianggap sebagai perlengkapan utama teks yang diamati oleh pembaca nantinya. Di dalam puisi Tahun Baru karangan Gus Mus ini, kode pertama diawali dengan penegasan identitas. Pemakaian unsur identitas inilah yang didekontruksi Gus Mus dalam menampilkan sebuah realita sosial. Kode kedua dilanjutkan dengan munculnya sistem nilai yang terangkum dalam ritual peribadatan digugat oleh Gus Mus. Ritual ibadah telah tereduksi maknanya dengan adanya pemahaman bahwa ibadah menyimpan credit point yang dapat ditukar dengan pahala dan harapan doa yang diinginkan. Kode ketiga adalah uraian yang menjelaskan tentang penyalahgunaan legitimasi kebaikan, pengetahuan, pendidikan, kebenaran, kemerdekaan dan kedamaian demi ambisi pribadi. Kerakusan dan keserakahan secara spontan dimaklumi dan dilegalkan dengan mengatasnamakan kebaikan sebagai dasar hukumnya.
Kode terakhir menerangkan tentang kuatnya obsesi masyarakat dalam mendapatkan status sosial dengan berburu gelar. Indikasinya adalah kegagalan kelompok yang berburu gelar tersebut dalam mempertanggungjawabkan posisi, peran dan fungsi di dalam masyarakat. Ketika dihadapkan dengan problematika keumatan dan sosial, mereka seakan sibuk dengan kehidupan pribadinya dan lupa dengan tugas sosial yang telah menjadi kewajibannya.
5. Kode kebudayaan adalah kode yang mengatur dan membentuk suara-suara kolektif dan anonim dari pertandaan, yang berasal dari pengalaman manusia dan tradisi yang beraneka ragam. Unit-unit kode ini dibentuk oleh beraneka ragam pengetahuan yang bersifat kolektif. Kode kultural ini merupakan acuan teks ke benda-bena yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Rumusan suatu budaya dan subbudaya seperti yang tertuang pada puisi Gus Mus yang berjudul Tahun Baru adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya Gus Mus bertolak.
Realisme budaya materialistik yang membentuk subbudaya hedonis didefnisi oleh pergerakan simbol-simbol bahasa dan hubungan antar tanda konotatif yang menjadi mitos. Kontruksi budaya yang melatarbelakangi proses pembacaan puisi telah memberikan asosiasi makna yang melekat pada bahasa konotatif. Fenomena budaya kontemporer atau budaya pop memungkinkan untuk pembaca menelurusi tingkatan makna yang beroperasi dalam puisi Gus Mus. Sistem budaya tersebut turut mempengaruhi paradigma masyarakat dalam memilih referensi untuk bertindak. Budaya pop dalam wacana semiotika poststrukturalis mempunyai kategori berbeda dengan budaya tradisional yang masih menghormati nilai-nilai lokal. Hal ini menimbulkan persepektif dominan yang digunakan masyakat dalam berperilaku, misalnya menunaikan ibadah haji untuk mendapat pengalaman spiritual sekaligus berbelanja. Contoh yang demikian ini adalah contoh paradoks yang sering kita jumpai wacana budaya postmodern. Ibadah yang bersifat suci transedental dipadukan dengan hobi personal yang materialis. Selain mereduksi nilai dan subtansi ibadah haji, hal ini juga membentuk pola pikir yang simpang-siur antara makna hakiki dan makna delusi dalam menjalankan ibadah tersebut.
Pada akhirnya sang pelaku kehilangan efek spiritualitas yang sejatinya ia dapatkan setelah melakukan ibadah haji. Rekontruksi baru pada budaya pop ini yang menyebabkan nilai-nilai keruhanian pada proses ibadah menjadi hilang dan kosong. Salah satu penyebab fenomena ini adalah kehilangan prinsip dan sistem nilai yang berimbas pada krisis identitas yang dialami oleh manusia tersebut
Kode-kode Barthes diatas dalam kaitannya dengam diskursus sastra sangatlah berguna sebagai alat memahami tanda dan bahasa secara estetik sesuai dengan wacana posmodernisme.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Sebagai bagian dari unsur budaya, karya sastra yang baik adalah karya sastra yang turut mempengaruhi gejolak dan dinamika sosial. Puisi pada hakikatnya mempunyai daya tekan dan daya imajinasi yang berbeda dengan karya sastra lain. Walaupun tidak dikonsumsi secara populer, puisi tetap terjaga rasa estetik yang unik dalam mengkabarkan gagasan-gagasan serta ideologi yang tersirat dalam puisi. Dengan daya khayal yang luas dan wawasan yang mendalam, puisi menemukan tempat khusus dalam melihat, mengamati, menjelaskan, menafsirkan, menyebarkan serta mengobarkan buah pikir sastrawan yang turut memperjuangkan ide-ide kemanusiaan.
Dalam kebudayaan massa kontemporer (contemporer mass culture), puisi telah kehilangan posisi dalam mempertegas karakter budaya. Kebudayaan massa kontemporer cenderung melihat puisi sebagai sebuah komoditas yang mempunyai nilai ekonomi, alih-alih sebagai produk kekayaan budaya. Mengingat ideologi kapitalislah yang melandasi kebudayaan massa sehingga nilai sebuah karya selalu diukur dengan hitungan material. Ini yang mendasari hilangnya sistem nilai dalam masyarakat kita. Sistem nilai sekarang tergantikan dengan sistem nilai kapitalis yang berorientasi profit sehingga menjadikan masyarakat kita teralienasi, hipokrit, materialis, latah, prematur dan mudah silau. Bersumber dari krisis identitas, masyarakat seakan menjadi masyarakat yang jati dirinya ditentukan oleh konvensi-konvensi budaya pop.
Alhasil, kegersangan nilai diri dan hilangnya makna kemanusiaan menjadi hal umum dalam masyarakat kita. Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes peneliti mengambil sebuah kesimpulan bahwa:
1. Karya sastra merupakan media komunikasi massa karena
a. objek komunikasi dari karya sastra adalah khalayak luas dan bersifat heterogen.
b. Pesan bersifat umum dan serempak
c. Komunikasi bersifat satu arah
d. Umpan balik tertunda (delayed) dan tidak langsung (indirect)
2. Makna linguistik dari bait puisi Tahun Baru dapat diartikan sebagai Signifier (penanda) yang menjadi sebuah ungkapan pertanyaan retoris. Arti kalimat yang disertai tekanan suara di ujung kalimat, intonasi nada dan backsound yang rendah akan menghasilkan interpretasi berbeda.
3. Makna denotatif dalam puisi ini, mengacu makna lugas dan literal (anggapan umum sebagaimana adanya) tentang tanda. Barthes mengasosiasikan denotasi dengan ketertutupan makna.
Makna konotatif dalam puisi menunjukan gambaran interaksi antara tanda dan perasaan atau emosi pembaca berdasarkan nilai-nilai kulturalnya. Bila denotasi adalah bait puisi yang tertulis, maka konotasi adalah bagaimana cara Gus Mus berpuisi.
4. Bait puisi Tahun Baru Bait puisi Tahun Baru menggambarkan kepribadian individualistik yang hipokrit dan mengajak untuk mengevaluasi diri sendiri sebelum mengkritik sesama.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, maka ada beberapa saran, yaitu:
1. Sasaran karya sastra adalah sebagai bahan evaluasi personal yang dapat dilakukan secara kolektif, maka dalam proses pemilihan diksi dan gaya bahasa harus lebih antusias dan membekas kedalam ingatan bukan mendayu pelan atau lirih.
2. Hubungan antar makna yang terjadi dalam bait puisi belum menjadi kerangka konsep yang kokoh untuk dijadikan acuan solusi dalam menyelesaikan problem masalah yang tergambar dalam puisi Tahun Baru, sebaiknya ciptakan closing statement yang dapat menjadi arahan konkret dalam menyikapi fenomena sosial yang tercermin dalam puisi tersebut.
3. Kekuatan puisi ini terletak dalam menampikan realita yang ambigu dengan lugas, akan lebih baik jika kuantitas fakta-fakta ambigu diperbanyak sehingga nilai puisi ini lebih bernas dan padat makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar